PSEL Jadi Harapan Baru Pekerja Sampah Bantul
- jogja.viva.co.id/Cahyo PE
BANTUL, VIVA Jogja – Penutupan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Piyungan membawa dampak besar terhadap keberlangsungan usaha pengelola dan pengepul sampah di Kabupaten Bantul. Para pekerja jasa layanan pembuangan sampah yang tergabung dalam Paguyuban Eker-Eker Golek Menir merasakan langsung penurunan pendapatan akibat terbatasnya akses pembuangan. Kondisi ini memaksa sebagian anggota mengurangi layanan pengambilan sampah, bahkan ada yang beralih profesi demi bertahan hidup.
Ketua Paguyuban, Sodig Marwanto, mengungkapkan bahwa jumlah anggota kini menyusut hingga tersisa sekitar 50 orang. Mereka tersebar dari wilayah timur hingga barat Bantul, namun banyak yang harus memangkas layanan karena tidak lagi memiliki tempat pembuangan yang memadai. “Selama Piyungan tutup ini, kami benar-benar menurun pendapatannya. Mengurangi nasabah sampah sampai cukup banyak. Ada yang banting stir usaha lainnya, ada yang bertahan dengan usaha sebisanya,” ujarnya saat ditemui di kawasan Pleret, Bantul, Kamis (8/10/2026) malam.
Di tengah kesulitan itu, muncul secercah harapan baru. Pemerintah berencana membangun fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di TPA Piyungan yang ditargetkan beroperasi pada 2028. Kehadiran PSEL diyakini dapat menjadi solusi berkelanjutan atas permasalahan sampah sekaligus memperbaiki kondisi ekonomi para pekerja jasa angkut.
Belasan anggota paguyuban berkumpul untuk menyampaikan dukungan penuh terhadap proyek tersebut. Mereka berharap skema pengelolaan PSEL nantinya melibatkan pekerja lokal dan menyediakan program pelatihan pemilahan sampah agar kemampuan mereka sesuai dengan kebutuhan operasional. “Kami optimis adanya PSEL yang dikabarkan 2028 beroperasi. Kami berharap bisa mendapatkan dampak positif ekonomi. Kami siap juga apabila ada pelatihan, misalnya pemilahan dan sebagainya, kami siap ikut,” tegas Sodig.
Meskipun detail teknis mengenai kriteria sampah maupun regulasi PSEL Piyungan belum disosialisasikan secara menyeluruh, pihak paguyuban menyatakan kesiapannya untuk mematuhi ketentuan pemerintah. Mereka menilai keterlibatan pekerja lokal akan memperkuat keberhasilan proyek sekaligus memberikan jaminan keberlanjutan mata pencaharian.
Harapan besar disematkan pada PSEL sebagai jalan keluar dari keterpurukan ekonomi yang dialami sejak penutupan TPA. Para pekerja sampah percaya bahwa fasilitas ini tidak hanya akan mengatasi masalah penumpukan sampah, tetapi juga membuka peluang kerja baru yang lebih layak. “Harapan kami adalah kami dilibatkan dalam PSEL ini. Nantinya kami dari Paguyuban Eker-Eker Golek Menir siap membantu dan mendukung keberadaan PSEL ini,” tutup Sodig.