Distribusi Beras SPHP Lewat Aplikasi Dinilai Rugikan Pedagang Pasar

Aplikasi Beras SPHP sulitkan pedagang
Sumber :
  • Istimewa

YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Kebijakan pemerintah yang mewajibkan pemesanan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) melalui aplikasi digital serta pelaporan penjualan harian, dianggap terlalu memberatkan pedagang kecil.

img_title Inflasi DIY Agustus 2026 Terkendali di Tengah Kenaikan Harga Pangan dan Energi

Menanggapi itu, Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Wisnu Setiadi Nugroho, juga menilai digitalisasi memang penting untuk pengawasan distribusi pangan, namun perlu dirancang secara inklusif agar tidak menyulitkan pedagang.

“Kalau pemerintah terlalu menekankan sisi kontrol administratif tanpa memperbaiki logistik, tujuan stabilisasi harga beras bisa meleset,” ujar Wisnu, Kamis (28/08/2025). Ia menekankan perlunya pendampingan dan sosialisasi agar kebijakan ini tidak menjadi beban tambahan bagi pedagang pasar yang memiliki keterbatasan literasi digital dan akses teknologi.

img_title Ekonomi DIY Tumbuh 5,84 Persen, Sri Sultan Ingatkan Ancaman Global dan Pentingnya Tata Kelola Data

Wisnu mengingatkan bahwa kebijakan digitalisasi harus memperhatikan keadilan distribusi. Tanpa pengaturan yang tepat, pedagang besar yang melek teknologi akan semakin diuntungkan, sementara pedagang tradisional tertinggal. Menurutnya, fokus utama seharusnya diarahkan pada perbaikan rantai pasok dari gudang Bulog ke pedagang agar distribusi lancar, biaya logistik turun, dan harga tetap stabil.

“Pengawasan digital tetap penting, tetapi jangan sampai menggantikan peran fundamental pemerintah sebagai pembuat kebijakan dan penegak institusi,” tegasnya.

img_title DIY Mantapkan Tujuh Strategi Kendali Inflasi, Sultan Ingatkan Tantangan Semester II

Wisnu juga menyoroti tumpang tindih antara distribusi beras SPHP oleh pedagang pasar dan operasi pasar langsung di tingkat kelurahan dan RW. Menurutnya, jika pemerintah terlalu aktif menjual langsung ke masyarakat, pedagang pasar sebagai jalur distribusi alami bisa terpinggirkan.

“Operasi pasar yang terlalu sering bersifat ad hoc dan berisiko melemahkan keberlanjutan distribusi rakyat. Negara seharusnya memperkuat institusi pasar rakyat sebagai tulang punggung stabilisasi jangka panjang,” ujarnya.

Harus Proporsional

Terkait keterlibatan TNI dan Polri dalam distribusi beras SPHP, Wisnu menyebut peran aparat penting untuk pengawasan dan penegakan hukum. Namun, ia mengingatkan agar distribusi tetap menjadi domain pedagang pasar. “Distribusi dan perdagangan sebaiknya tetap di tangan pedagang, sementara aparat berfungsi sebagai pengawas aturan agar ekosistem perdagangan tidak terganggu,” jelasnya.

Sebagai solusi, Wisnu mendorong perbaikan logistik nasional untuk menurunkan biaya transportasi dan memastikan stok Bulog tersebar merata. Ia juga menyarankan agar mekanisme digital dibuat lebih adaptif, misalnya dengan pemesanan melalui WhatsApp atau bantuan petugas pasar.

Halaman Selanjutnya
img_title