Hampir tengah malam Sri Sultan HB X datangi Mapolda DIY di Tengah Aksi Massa
- Humas Pemda DIY
YOGYAKARTA, VIVA Jogja – Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X dengan berpakaian kasual berjaket hitam, sekitar pukul 23.00 WIB mendatangi Mapolda DIY di tengah massa aksi yang masih bertahan.
Didampingi dua putrinya, GKR Condrokirono dan GKR Hayu, menantu KPH Yudhanegara, serta Plt Kasatpol PP DIY Noviar Rahmad dan Bupati Sleman Harda Kiswaya, Sri Sultan HB X yang mengendarai mobil Alphard bernomor polisi AB 10 HB, menembus kerumunan massa yang masih memadati jalan ringroad utara.
Tampak massa aksi memberikan jalan kepada orang nomer satu di DIY tersebut seraya menyambut dengan lantuan lagu “Buruh Tani”. Ketegangan sempat menurun, namun saat Sultan dan rombongan turun dan masuk ke ruang Kapolda DIY, tampak massa mulai meneriakkan yel-yel dan Kembali menyalakan api. Pihak kepolisian pun kembali menembakkan gas air mata ke untuk membatasi massa yang terus meringsek ke arah gerbang Mapolda DIY.
Ribuan massa dari kalangan mahasiswa dan masyarakat sipil terus menyuarakan tuntutan mereka, sementara di dalam Kapolda DIY Irjen Pol Anggoro Sukartono yang menerima Sri Sultan dan rombongan, bersama-sama memantau situasi melalui CCTV.
Massa aksi yang dipicu kemarahan atas insiden tragis yang menimpa Affan Kurniawan, driver ojek online yang tewas terlindas kendaraan taktis polisi saat demonstrasi di Jakarta, meminta aparat untuk mengusut tuntas dan penghentian tindakan represif terhadap warga sipil.
Belum diketahui statement Sri Sultan HB X atas situasi tersebut, sementara gelombang massa justru bertambah menjelang tengah malam.
Aksi Anarkis
Diketahui, sejak sore, massa aksi yang tergabung dalam aliansi “Jogja Memanggil” yang terdiri dari mahasiswa, pelajar dan warga sipil, mendatangi Mapolda DIY dan berlaku anarkis, akibatnya dua unit mobil terbakar, gerbang sisi barat dan timur jebol. Api pun membakar tenda pleton, mesin ATM dirusak, dan ruang Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) tampak terbakar.
Massa aksi terus menyuarakan kekecewaan mereka terhadap kebijakan pemerintah dan tindakan aparat. Di tengah kekacauan, kelompok driver ojol berusaha meredam tindakan anarkis dari massa susulan, namun ketegangan tetap tak terhindarkan.