Koperasi Kelurahan Merah Putih Yogya Terkendala Lahan
- Dok Pemkot Yogya
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Pemerintah Kota Yogyakarta menghadapi tantangan serius dalam pembangunan gerai Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP). Keterbatasan lahan di wilayah perkotaan membuat syarat minimal luas gerai sebesar 600 meter persegi, sebagaimana ditetapkan pemerintah pusat, sulit dipenuhi. Meski demikian, Pemkot Yogyakarta menegaskan komitmennya agar koperasi tetap berjalan produktif dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyampaikan bahwa pihaknya terus berupaya mencari solusi. “Kami masih mencari lahan, tetapi belum menemukan yang sesuai dengan syarat 600 meter persegi. Saya dengar ada wacana kebijakan baru yang lebih fleksibel. Jika benar, maka kami bisa segera membangun gerai KKMP standar,” ujar Hasto. Ia menambahkan, jika aturan diperlonggar, Pemkot siap memanfaatkan lahan dengan luas 200 hingga 400 meter persegi untuk mendirikan gerai koperasi.
Meski terkendala lahan, KKMP di Yogyakarta tetap menunjukkan produktivitas. Saat ini terdapat 45 KKMP yang aktif, dengan enam di antaranya bergerak di bidang produksi batik khas Yogyakarta, Segoro Amarto Reborn. Batik ini bahkan telah ditetapkan sebagai seragam resmi bagi sekitar 6.500 pegawai Pemkot Yogyakarta. “Artinya koperasi tidak hanya berfungsi sebagai wadah ekonomi, tetapi juga menjaga identitas budaya lokal,” tegas Hasto.
Selain batik, KKMP juga diarahkan untuk menjalankan bisnis strategis yang memiliki kepastian pasar. Hasto mencontohkan usaha retail produk konsumsi masyarakat. Ia berharap koperasi dapat mandiri dalam pendanaan tanpa bergantung pada anggaran kelurahan. “Koperasi harus punya target jelas sejak awal, termasuk siapa pembelinya. Dengan begitu, usaha bisa berkelanjutan,” tambahnya.
Kepala Dinas Perindustrian Koperasi dan UKM Kota Yogyakarta, Tri Karyadi Riyanto Raharjo, menjelaskan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) untuk mendata aset yang bisa dimanfaatkan. Namun, selain luas lahan, syarat lokasi gerai juga harus strategis, dengan akses jalan yang memadai untuk distribusi barang. “Untuk Kota Yogyakarta, lahan dengan syarat seperti itu memang tidak tersedia. Karena itu, kami fokus pada aktivitas koperasi terlebih dahulu,” jelas Tri Karyadi.
Sejumlah KKMP kini menjalankan kegiatan dari rumah pengurus atau memanfaatkan bangunan koperasi lama. Misalnya, KKMP Purwokinanti menggunakan fasilitas koperasi yang sudah ada, sementara KKMP Giwangan bekerja sama dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi untuk menyuplai produk sabun cuci ramah lingkungan. Sinergi juga dilakukan dengan Forum Komunikasi UMKM di Kemantren Pakualaman untuk menjalankan gerai usaha bersama.