Pemkot Yogyakarta Perluas Peran Tenaga Kesehatan Kampung

Program Satu Kampung Satu Tenaga Kesehatan
Sumber :
  • Bing Image Creative

YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Pemerintah Kota Yogyakarta terus memperkuat program Satu Kampung Satu Tenaga Kesehatan dengan cakupan yang semakin luas. Tidak hanya fokus pada penanganan stunting, kini tenaga kesehatan kampung juga diberi mandat untuk mendampingi penderita tuberkulosis (TB) dan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

img_title Ratusan Santri Nailul Muna Ikuti Skrining Kesehatan dan Edukasi PHBS dari Puskesmas Welahan I

Kebijakan ini disampaikan Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, dalam kegiatan Monitoring Kinerja Penanggungjawab Kampung yang berlangsung di Ruang Bima Balai Kota Yogyakarta. Acara tersebut diikuti sekitar 250 tenaga kesehatan, terdiri dari 169 penanggung jawab kampung, 45 tim bidan kelurahan, kepala puskesmas, serta pendamping dari Dinas Kesehatan Kota.

Hasto menegaskan bahwa tenaga kesehatan kampung adalah ujung tombak pelayanan karena mereka berhadapan langsung dengan masyarakat. Ia mencontohkan keberhasilan penanganan stunting di Kota Yogyakarta yang menunjukkan tren positif. Saat ia mulai menjabat, angka stunting berada di kisaran 14,8 persen. Berkat intervensi lintas sektor dan dukungan Dana Keistimewaan, angka tersebut berhasil ditekan hingga 8,76 persen pada Januari 2026. Pemerintah menargetkan angka itu turun lebih jauh hingga sekitar 5 persen.

img_title Refocusing Program MBG Prioritaskan pada Daerah Stunting

“Sekarang kita kawal lebih detail dengan sistem by name by address. Jadi setiap kasus stunting harus benar-benar terpantau secara personal,” ujar Hasto.

Selain stunting, Pemkot juga menyiapkan program hospital at home untuk melayani lansia yang tidak mampu datang ke fasilitas kesehatan. Berdasarkan data Dinas Kesehatan, terdapat 949 lansia di Kota Yogyakarta yang memerlukan kunjungan rutin karena keterbatasan mobilitas atau kondisi kesehatan. Dengan 169 tenaga kesehatan kampung yang ada, rata-rata setiap petugas akan menangani enam lansia.

img_title Strategi Penanganan Stunting Kota Yogyakarta Jadi Rujukan Kabupaten Hulu Sungai Utara

Hasto menekankan bahwa konsep Satu Kampung Satu Tenaga Kesehatan bertujuan agar setiap petugas benar-benar memahami kondisi kesehatan warganya. “Harapan saya, satu petugas satu kampung itu tahu siapa saja yang stunting, siapa yang hamil, siapa lansia, siapa yang ODGJ, dan siapa yang TBC. Kalau kampungnya kecil, mestinya dikuasai betul,” tegasnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Emma Rahmi Aryani, menambahkan bahwa program ini masih dalam tahap penguatan sehingga tenaga kesehatan di lapangan memerlukan proses pembelajaran. Ia menekankan bahwa penanganan kesehatan masyarakat tidak bisa hanya mengandalkan sektor kesehatan. “Intervensi stunting itu ada dua, yaitu spesifik dan sensitif. Yang spesifik dari kesehatan hanya sekitar 30 persen, sedangkan 70 persen lainnya berasal dari sektor lain seperti pendidikan, pertanian, dan pemberdayaan masyarakat. Karena itu harus dikeroyok bersama,” jelasnya.

Halaman Selanjutnya
img_title