Siaga Kekeringan, Gunungkidul Siapkan Droping Air Bersih
- Istimewa
GUNUNGKIDUL, VIVA Jogja - Musim kemarau 2026 kembali membawa tantangan besar bagi masyarakat Gunungkidul. Sedikitnya 12 kapanewon di wilayah ini dipetakan sebagai daerah rawan kekeringan, dengan potensi kesulitan akses air bersih yang cukup tinggi. Pemerintah Kabupaten melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah menyiapkan langkah antisipasi berupa droping air bersih, sebagai bagian dari mitigasi bencana hidrometeorologi yang rutin terjadi setiap tahun.
Kepala Bidang Pencegahan Kesiapsiagaan Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Gunungkidul, Nanang Irawanto, menjelaskan bahwa pemetaan kerawanan dilakukan berdasarkan kajian risiko bencana 2025 serta pengalaman tahun sebelumnya. Wilayah yang masuk kategori rawan meliputi Purwosari, Panggang, Paliyan, Tanjungsari, Tepus, Rongkop, Girisubo, Patuk, Gedangsari, Nglipar, Semanu, dan Ponjong. Menurut Nanang, penetapan ini bukan tanpa dasar, sebab tahun lalu seluruh kapanewon tersebut tercatat meminta bantuan droping air bersih.
Untuk menghadapi ancaman kekeringan, BPBD Gunungkidul menetapkan status siaga darurat kekeringan melalui Surat Keputusan No.154/KPTS/2026 tertanggal 29 Mei 2026. Status ini berlaku sejak 1 Juni hingga 31 Agustus 2026. Dalam kerangka kebijakan tersebut, BPBD telah menyiapkan alokasi droping sebanyak 1.500 tangki air. Namun, penyaluran bantuan diprioritaskan menggunakan anggaran milik kapanewon terlebih dahulu, sesuai arahan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) agar tidak terjadi tumpang tindih bantuan. BPBD baru akan turun tangan setelah pagu anggaran di tingkat kapanewon habis.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono, menambahkan bahwa 12 kapanewon rawan kekeringan sudah mengalokasikan anggaran droping secara mandiri. Sementara itu, beberapa kapanewon lain seperti Wonosari, Playen, Saptosari, Karangmojo, Semin, dan Ngawen tidak memiliki anggaran khusus untuk droping air. Dengan demikian, koordinasi lintas wilayah menjadi penting agar distribusi bantuan berjalan efektif dan tepat sasaran.
Di Purwosari, Panewu Subiyantoro mengakui bahwa wilayahnya rutin terdampak kemarau. Warga di sejumlah kalurahan kesulitan memperoleh air bersih, sehingga pemerintah kapanewon setiap tahun menyiapkan anggaran droping. Pada 2026, dana yang disediakan mencapai Rp79,6 juta. Meski demikian, hingga pertengahan Juni bantuan belum disalurkan karena jadwal distribusi baru dimulai pada Juli. Subiyantoro menyebut biasanya droping difokuskan untuk warga di Kalurahan Giripurwo dan Giricahyo yang paling rentan.