Gotong Royong Wujudkan Kota Yogya Bebas Sampah
- Dok Pemkot Yogya
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Pemerintah Kota Yogyakarta semakin menegaskan komitmennya dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Di tengah tantangan urbanisasi dan meningkatnya volume sampah, semangat gotong royong menjadi fondasi utama dalam menjaga kebersihan kota sekaligus memperkuat kesadaran lingkungan warga.
Dalam forum pembinaan organisasi kemasyarakatan bertajuk “Dari Ormas untuk Lingkungan” di Hotel New Saphir, Walikota Yogyakarta Hasto Wardoyo menekankan bahwa persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya dengan kebijakan pemerintah. Menurutnya, perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat adalah kunci utama agar pengelolaan sampah tidak berhenti pada tataran teknis, tetapi menjadi gerakan sosial yang menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama. Ia menyebut pengelolaan sampah sebagai bagian dari revolusi mental menuju masyarakat yang tertib, mandiri, dan berkeadilan sosial.
Salah satu wujud nyata dari komitmen tersebut adalah Gerakan Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas JOS). Program ini dirancang untuk menggerakkan warga agar aktif memilah dan mengolah sampah sejak dari sumbernya. Mas JOS kini telah menjangkau seluruh 45 kelurahan di Kota Yogyakarta, melibatkan RW, RT, PKK, pelaku usaha, sekolah, kampus, hingga 701 unit bank sampah yang tersebar di berbagai wilayah. Melalui gerakan ini, masyarakat diajak menerapkan lima langkah utama: memilah sampah sesuai jenisnya, menyalurkan sampah anorganik ke bank sampah, mengolah sampah organik, mengurangi limbah makanan, serta menggunakan wadah yang dapat dipakai berulang kali.
Pemkot juga memperkuat sektor hulu dengan edukasi lingkungan di sekolah melalui Program Adiwiyata, forum bank sampah, dan kegiatan Hari Lingkungan Hidup. Di setiap kelurahan, ditempatkan petugas pengawas pemilahan sampah yang dikenal sebagai “Jumilah”. Mereka memastikan proses pemilahan berjalan sesuai kategori, terutama untuk sampah organik yang akan diolah lebih lanjut.
Untuk mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pengolahan akhir, Pemkot mendorong penggunaan Biopori Jumbo sebagai metode pengolahan sampah organik rumah tangga. Lubang biopori ini digunakan untuk mengurai daun, kulit buah, dan sisa sayuran mentah menjadi kompos alami. Selain menekan timbulan sampah, biopori juga menjadi solusi berbasis alam dalam menghadapi perubahan iklim. Hingga pertengahan 2026, jumlah titik biopori di Kota Yogyakarta meningkat dari 622 menjadi 1.022 lokasi yang tersebar di seluruh kelurahan.