Nilai TKA Jepara Rendah Belum Memuaskan, DPRD Minta Perhatian pada Kesejahteraan Guru

Ketua Komisi C DPRD Jepara Nur Hidayat
Sumber :
  • Vivajogja

VIVAJogja –‎‎ JEPARAKabupaten Jepara masuk dalam 30 besar kabupaten/kota dengan rata-rata nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 tertinggi di Jawa Tengah untuk jenjang SD dan SMP. Namun, capaian tersebut dinilai belum cukup membanggakan dan masih menjadi pekerjaan rumah bagi dunia pendidikan di daerah.

img_title Peran Sekolah Sangat Besar, Pelestarian Seni Ukir Jepara Harus Dimulai Sejak Usia Dini

‎Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menunjukkan Jepara menempati peringkat ke-29 Jawa Tengah untuk jenjang SD dengan rata-rata nilai 53,86. Nilai tersebut terdiri atas Bahasa Indonesia 62,44 dan Matematika 45,28.

‎Sementara pada jenjang SMP, Jepara juga berada di posisi ke-29 dengan rata-rata nilai 52,88, dengan rincian Bahasa Indonesia 63,81 dan Matematika 41,94.

img_title Pabrik Garmen Legendaris di Jepara Tutup, 670 Karyawan Kehilangan Pekerjaan

‎Hasil tersebut memperlihatkan kemampuan literasi siswa Jepara relatif lebih baik dibandingkan numerasi. Pada kedua jenjang pendidikan, nilai Bahasa Indonesia tercatat jauh lebih tinggi dibandingkan Matematika.

‎Ketua Komisi C DPRD Jepara, Nur Hidayat, menilai capaian tersebut harus menjadi bahan evaluasi bersama. Menurutnya, peningkatan mutu pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga memerlukan keterlibatan pemerintah, guru, dan orang tua.

img_title Progres Hampir 50 Persen, Bupati Jepara Pastikan Jalan Perbatasan Jepara-Demak Tepat Waktu

‎“Dengan hasil yang masih perlu ditingkatkan ini, kami berharap semua pihak benar-benar memperhatikan kualitas pendidikan anak-anak Jepara. Peran orang tua sangat penting dalam mendampingi proses belajar di rumah. Guru, sekolah, dan Dinas Pendidikan juga perlu terus meningkatkan kualitas pembelajaran agar capaian peserta didik lebih baik pada tahun mendatang,” ujarnya.

‎Nur Hidayat menegaskan kualitas tenaga pendidik menjadi faktor penting dalam meningkatkan prestasi akademik siswa. Karena itu, peningkatan kompetensi guru harus berjalan beriringan dengan perbaikan sistem pembelajaran di sekolah.

‎Selain faktor sekolah, ia juga menyoroti pentingnya budaya belajar di lingkungan keluarga. Menurutnya, kebiasaan siswa di luar jam pelajaran turut memengaruhi capaian akademik.

‎“Waktu belajar di rumah perlu mendapat perhatian. Anak-anak jangan terlalu banyak menghabiskan waktu untuk nongkrong, bergadang, atau tidur terlalu larut malam karena dapat memengaruhi konsentrasi dan kesiapan mereka saat mengikuti pembelajaran,” katanya.

‎Di sisi lain, Nur Hidayat menilai persoalan kesejahteraan tenaga pendidik masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian serius. Kekurangan kepala sekolah dan guru di sejumlah satuan pendidikan dinilai berpotensi memengaruhi kualitas layanan pendidikan.

Halaman Selanjutnya
img_title