UMY Ingatkan Indonesia Perlu Siaga Hadapi Ancaman Ebola
- Bing Image Creator
BANTUL, VIVA Jogja - Munculnya kembali wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo dengan lebih dari seribu kasus dan ratusan korban meninggal dunia menjadi peringatan keras bagi dunia, termasuk Indonesia, untuk memperkuat kewaspadaan terhadap penyakit menular lintas batas. World Health Organization (WHO) bahkan menetapkan status Public Health Emergency of International Concern (PHEIC), menandakan bahwa ancaman ini bukan hanya masalah lokal, melainkan perhatian internasional yang harus segera direspons.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (FKIK UMY), dr. Farindira Vesti Rahmasari, M.Sc., Ph.D., menilai bahwa perkembangan kasus Ebola harus menjadi pengingat bagi setiap negara untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Menurutnya, meskipun pola penularan Ebola berbeda dengan COVID-19, mobilitas manusia yang tinggi tetap membuka peluang penyebaran lintas negara. “Penularan Ebola terjadi melalui kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, atau jenazah penderita. Namun ketika suatu penyakit dinilai berisiko menyebar lintas negara, hal itu menjadi sinyal bahwa dunia perlu meningkatkan kewaspadaan,” ujarnya.
Farindira menekankan bahwa status PHEIC yang ditetapkan WHO bukan sekadar mencerminkan peningkatan jumlah kasus, melainkan peringatan agar setiap negara memperkuat sistem deteksi dini, pelaporan, dan respons kesehatan masyarakat. Berdasarkan pengalaman berbagai wabah global, keterlambatan dalam mendeteksi maupun merespons kasus dapat memperbesar risiko penyebaran penyakit ke wilayah yang lebih luas.
Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan banyak pintu masuk internasional, dinilai perlu meningkatkan pengawasan kesehatan di bandara, pelabuhan, dan jalur perlintasan. Meski hingga kini belum ditemukan kasus Ebola di tanah air, kewaspadaan tetap harus dijaga. Farindira menegaskan bahwa pengawasan terhadap pelaku perjalanan dari wilayah terdampak, kesiapan petugas kesehatan, prosedur rujukan, sistem kewaspadaan dini, serta dukungan laboratorium untuk deteksi cepat merupakan langkah penting agar respons bisa dilakukan sedini mungkin.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kesiapsiagaan menghadapi Ebola tidak cukup dipandang sebagai persoalan medis semata. Kemampuan suatu negara menghadapi ancaman penyakit menular sangat bergantung pada kekuatan sistem kesehatan secara menyeluruh. Hal ini mencakup surveilans penyakit, kekarantinaan, kapasitas laboratorium, perlindungan tenaga kesehatan, hingga komunikasi publik yang efektif. “Kesiapsiagaan menghadapi wabah tidak hanya berbicara tentang cara penularan atau pengobatannya. Yang lebih penting adalah apakah sistem kesehatan mampu mengenali tanda bahaya sejak dini, melakukan pelacakan, menyediakan fasilitas memadai, serta memastikan koordinasi lintas sektor berjalan dengan baik. Semua komponen tersebut merupakan bagian dari ketahanan kesehatan nasional,” jelasnya.