Mendekatkan Harapan, Merawat yang Terlupakan
- VIVA Jogja/dokpri
Kisah Para Dokter Spesialis Menjalankan Misi Kemanusiaan dari Desa ke Desa
Semarang, VIVA Jogja - “Sudah berapa malam Ibu tidak bisa tidur?”
“Tiga minggu ini, Dok… mata merem tapi kepala nggak pernah benar-benar istirahat,” jawab perempuan setengah baya itu, dengan suara bergetar.
“Apa perasaan yang dominan muncul akhir-akhir ini. Ada sesuatu yang terjadikah, sehingga pikiran serasa tidak bisa istirahat?”
Percakapan sederhana itu terjadi saat Program Dokter Spesialis Keliling (Speling) di ajang Car Free Day (CFD) kawasan Simpang Lima, Kota Semarang.
“Ternyata, gejala tidak bisa tidurnya karena si ibu, baru saja sebulan lalu ditinggal mati suami tercinta,” ungkap dr Anita Virgiyanti, Sp.KJ, dengan mata berkaca-kaca.
Ada rasa haru, sekaligus bangga yang dirasakan psikiater tersebut, saat menjumpai pasien yang menunggu dengan rasa cemas bercampur lega. Mereka akhirnya bisa bertemu dokter spesialis tanpa harus menempuh perjalanan berjam-jam.
“Lewat program ini, warga di pelosok yang sebelumnya kesulitan mendapatkan layanan kini akhirnya bisa bertemu langsung dengan dokter spesialis. Inisiatif ini tidak sekadar menghadirkan pelayanan lebih dekat, tetapi juga tak dikenakan biaya,” ujar dokter spesialis kejiwaan, yang sehari-hari bertugas di RS Mata Daerah Soepardjo Roestam Semarang ini, kepada VIVA Jogja, Senin (17/11/2025).
Lebih dari sepuluh kali, dr Anita terlibat dalam Program Dokter Spesialis Keliling (Speling) yang digagas Gubernur Jateng Ahmad Luthfi dan Wagub Taj Yasin Maimoen.
Dari pengalaman itu, dia telah melihat langsung bagaimana layanan kesehatan jiwa diterima di berbagai wilayah di Jawa Tengah. Setiap daerah, katanya, menghadirkan kesan tersendiri—baik dalam hal tantangan, kebutuhan masyarakat, maupun respons yang diberikan. Namun, ada satu pengalaman yang paling membekas di ingatannya.
“Saya pernah turun Speling, tempat sudah disiapkan, privat, nyaman, tapi tidak ada satu pun yang datang untuk konsultasi,” ujarnya.
Padahal, Kepala Puskesmas setempat menyampaikan bahwa kasus gangguan jiwa di wilayah itu cukup tinggi. “Ini menunjukkan stigma masih kuat. Banyak orang takut terlihat datang ke layanan jiwa, karena dianggap negatif.”