Cerita Aditya Suryadinata Bangun Brand Batik Modern dan Mendunia

Aditya Suryadinata
Sumber :
  • jogja.viva.co.id/Cahyo PE

 

 VIVA Jogja - Bagi Aditya Suryadinata, menjadi pengusaha batik tak pernah ada dalam benaknya. Aditya awalnya ingin mengejar mimpi menjadi seorang kontraktor.

Memiliki latar belakang pendidikan teknik sipil, dan juga melanjutkan studi master hingga ke luar negeri Aditya akhirnya memilih untuk meneruskan bisnis batik milik keluarganya karena permintaan sang ayah.

Pada tahun 2015, Aditya mulai memegang manajemen Rianty Batik. Di awal dirinya mengelola Rianty Batik, salah satu yang dilakukannya adalah melakukan penjualan secara online.

Ketika itu, Aditya menceritakan berjualan online belum sefamiliar saat ini. Saat itu, belum booming berjualan lewat marketplace. Aditya menjual batik melalui aplikasi Blackberry Messenger (BBM) maupun Facebook.

Aditya mengaku saat itu berjualan produk secara online belum semudah saat ini. Saat itu, Aditya telah mempekerjakan satu orang khusus untuk mengurusi penjualan online. Keputusan Aditya berjualan online ini sempat ditentang oleh orangtuanya.

 "Katakanlah gajinya saat itu Rp 1 juta tapi omzet sebulannya hanya Rp 700 ribu. Orangtua makin tidak dipercaya," ucap Aditya sambil tertawa.

Aditya mengaku perubahan drastis mulai terasa saat pandemi COVID-19 lalu. Saat itu toko terpaksa tutup karena ada pemberlakuan PPKM. Ketika itu masyarakat mulai familiar dengan transaksi online. "Saat itu mulai perubahan drastis. Masyarakat mulai terbiasa dengan online termasuk untuk belanja. Mulai ada perubahan meski belum signifikan," ungkap Aditya.

Saat ini, masyarakat sudah familiar dengan marketplace dan berbelanja online. Penjualannya pun bisa merambah ke seluruh Indonesia. Bahkan ke beberapa negara tetangga. Meski memaksimalkan penjualan online, Aditya menuturkan dirinya tetap mempertahankan toko offline. Selain di Malioboro, Rianty Batik juga memiliki 13 cabang lainnya di kota-kota besar di Indonesia.

Aditya beralasan mempertahankan toko karena ada kebiasaan pembelinya. Aditya menyebut ada pembeli yang sudah melihat-lihat desain batik di marketplace kemudian melihat langsung ke toko. Hal ini terlihat dari omzet penjualan, 30 persen online dan sisanya pembeli langsung di toko. "Karena ada beberapa yang ingin merasakan dan melihat langsung. Setelah itu baru mantap untuk membeli batik," urai Aditya.