Riset UGM Ungkap Dampak Pola Asuh Kasar terhadap Struktur Otak Anak
- Dok Humas UGM
SLEMAN, VIVA Jogja – Pola pengasuhan yang kasar ternyata meninggalkan luka yang tak terlihat, bukan hanya secara psikologis tetapi juga memengaruhi struktur otak anak. Temuan ini diungkapkan oleh Radhiatul Fitri, mahasiswa S3 Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), dalam ujian disertasinya berjudul “Trauma Masa Kanak-Kanak dan Pengasuhan Ibu: Peran Reflective Functioning Spesifik Trauma (RF-T) pada Pemrosesan Neural Emosi Anak dan Kompetensi Pengasuhan”.
Fitri menjelaskan bahwa orang tua yang pernah mengalami trauma masa kecil, seperti dipukul atau dikunci berhari-hari, cenderung mewariskan pola pengasuhan yang sama kepada anak mereka. Namun, hal tersebut tidak selalu terjadi. Orang tua yang memiliki kemampuan refleksi tinggi justru mampu memutus siklus trauma antar generasi. “Trauma itu tidak serta-merta langsung membuat seseorang tidak kompeten dalam mengasuh anak. Reflective functioning trauma inilah yang menjadi mediator terhadap kemampuan dia dalam mengasuh anak,” ungkapnya.
Dalam penelitian yang dilakukan, Fitri menemukan bahwa orang tua dengan fungsi refleksi rendah cenderung terlalu waspada terhadap ekspresi emosi anak. Hal ini membuat kemampuan mereka dalam meregulasi emosi melemah. Sebaliknya, orang tua dengan fungsi refleksi tinggi menunjukkan fleksibilitas neural yang lebih baik, sehingga lebih mampu merespons rangsangan dari anak dengan cara yang sehat dan adaptif.
Penelitian ini menggunakan tiga pendekatan utama. Pertama, adaptasi dan validasi psikometri dari Failure to Mentalize Trauma Questionnaire (FMTQ) untuk mengukur kemampuan seseorang dalam berefleksi terhadap trauma. Kedua, pengembangan dan validasi ekspresi wajah anak Indonesia berusia 2–8 tahun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Ketiga, eksperimen elektrofisiologis menggunakan analisis event-related potentials (ERP) dan functional connectivity EEG dengan matriks koherensi dan WPLI. Fitri menegaskan bahwa FMTQ dapat digunakan secara valid untuk menilai apakah seseorang mampu “move on” dari trauma masa kecilnya atau tidak.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketika trauma masa kecil dikaitkan langsung dengan kompetensi pengasuhan, hubungan yang muncul tidak signifikan. Namun, ketika variabel fungsi refleksi trauma dimasukkan, hasilnya menjadi signifikan. Artinya, kemampuan refleksi terhadap trauma menjadi faktor kunci dalam menentukan kualitas pengasuhan.