UGM Dorong UMKM Lokal Lebih Tangguh Hadapi Ancaman Siber
- Dok Humas UGM
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Universitas Gadjah Mada (UGM) menegaskan komitmennya dalam memperkuat keamanan digital bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui penyelenggaraan APAC Cybersecurity Clinics Academics Champions Convening. Acara yang berlangsung di Ruang Multimedia Lantai 3, Gedung Pusat UGM, menghadirkan akademisi, mitra internasional, mahasiswa, serta pelaku UMKM untuk membangun kolaborasi dalam menghadapi tantangan keamanan siber.
Dengan jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 235 juta orang atau sekitar 81,72 persen dari populasi, potensi ekonomi digital tumbuh pesat. Namun, pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan kesiapan keamanan siber, terutama di kalangan UMKM. Melalui kegiatan ini, UGM berupaya memberikan solusi nyata agar UMKM mampu mengelola risiko digital sekaligus meningkatkan daya saing di era transformasi teknologi.
Perwakilan Cyberclinic UGM, Siti Baroroh, menjelaskan bahwa program cybersecurity clinic dirancang untuk meningkatkan keamanan digital UMKM sekaligus mengurangi risiko serangan siber. Program ini juga menjadi wadah pembelajaran bagi mahasiswa, tidak hanya dalam aspek teknis, tetapi juga keterampilan komunikasi, empati, dan presentasi. “Program ini kami tujukan untuk meningkatkan keamanan digital dan mengurangi risiko serangan siber, sekaligus memberikan pengalaman praktis bagi mahasiswa dalam mendampingi UMKM,” ujarnya.
Dalam proyek percontohan, sebanyak 15 mahasiswa dilibatkan untuk mendampingi 30 UMKM. Sebelum terjun ke lapangan, mahasiswa mendapatkan pelatihan yang mencakup keterampilan teknis dan komunikasi. Mereka kemudian memberikan edukasi kepada UMKM melalui berbagai metode, seperti focus group discussion, pembelajaran interaktif, serta kegiatan outreach and education. Pendekatan ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan UMKM yang selama ini masih minim pemahaman mengenai keamanan digital.
Director of Community Services The Asia Foundation, Nadya Subramaniam, memberikan apresiasi atas kolaborasi yang terbangun. Menurutnya, pertemuan antara akademisi, mahasiswa, dan UMKM menjadi bagian penting dalam memperkuat jejaring serta keberlanjutan program keamanan siber di kawasan Asia-Pasifik. Ia menilai model klinik siber yang dikembangkan UGM dapat menjadi contoh bagi negara lain dalam membangun ketahanan digital berbasis komunitas.
Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Aset, dan Sistem Informasi UGM, Arief Setiawan Budi Nugroho, menegaskan bahwa transformasi digital menghadirkan peluang sekaligus risiko baru bagi UMKM. Menurutnya, keamanan siber menjadi semakin penting ketika UMKM terus mengadopsi teknologi digital dalam kegiatan bisnis mereka. “Keamanan siber menjadi semakin penting ketika perusahaan mikro, kecil, dan menengah terus mengadopsi teknologi digital dalam kegiatan bisnis mereka,” tuturnya.