Bekatul Jadi Bahan Plester, Mahasiswa UGM Bidik Terapi Dislipidemia

Tim PKM-RE BRANOVATE Universitas Gajah Mada
Sumber :
  • Viva Jogja

Formula nanoemulsi kemudian dirancang untuk dimasukkan ke dalam matriks plester transdermal berbasis hydroxypropyl methylcellulose (HPMC). Dalam formulasi tersebut, gliserin digunakan sebagai plasticizer, sedangkan natrium metabisulfit berfungsi sebagai antioksidan. 

img_title UGM Pertahankan Predikat Five Star Plus Kampus Sehat ASEAN

Pengujian juga dirancang untuk melihat efektivitas formulasi tersebut. Pada tahap in vivo, penelitian menggunakan 25 tikus jantan yang dibagi secara acak menjadi lima kelompok, yakni kontrol normal, kontrol negatif sindrom metabolik, kontrol positif dengan statin, kelompok plester plasebo, serta kelompok yang mendapat plester nanoemulsi ekstrak bekatul. 

Model sindrom metabolik pada hewan uji dibentuk melalui induksi lemak dan streptozotocin-natrium atau STZ-Na. Efektivitas perlakuan nantinya dievaluasi berdasarkan perubahan parameter profil lipid, terutama kolesterol total, trigliserida, dan LDL.

img_title Tim FKH UGM Tangani Kasus Gondok dan Abortus Kambing Perah di Jatinom

Penelitian Belum Sampai Tahap Uji In Vivo

Hingga tahap pelaporan kemajuan, tim telah menyelesaikan preparasi dan ekstraksi bekatul serta analisis awal ekstrak. Profiling awal juga dilakukan menggunakan kromatografi lapis tipis atau KLT, disusul optimasi formulasi nanoemulsi. 

img_title 17 Peneliti UGM Masuk Daftar Top 2% Ilmuwan Dunia, Bukti Kualitas Riset dan Inovasi

Tim selanjutnya telah menyelesaikan karakterisasi nanoemulsi dan pembuatan plester. Tahap berikutnya adalah menyelesaikan uji pelepasan serta pengujian in vivo untuk mengevaluasi perubahan profil lipid pada hewan uji. 

Artinya, inovasi BRANOVATE saat ini masih berada pada tahap penelitian dan pengembangan kandidat terapi, bukan produk obat yang telah terbukti efektif digunakan pada manusia. Hasil penelitian nantinya diharapkan dapat menjadi bukti praklinis awal untuk pengembangan sistem penghantaran berbasis bekatul.

Fauzia menjelaskan, kekuatan utama penelitian tersebut terletak pada upaya menggabungkan bahan alam dengan teknologi penghantaran obat. Menurut dia, tim tidak hanya mengeksplorasi kandidat bahan aktif untuk dislipidemia, tetapi juga mencoba menjawab tantangan formulasi dan penghantarannya. 

“Di tengah permasalahan tersebut, kami melihat limbah bekatul beras putih memiliki kandungan yang berpotensi membantu memperbaiki profil lipid. Namun, pemanfaatannya secara oral masih memiliki keterbatasan bioavailabilitas, sehingga kami mengembangkan bekatul dalam bentuk nanoemulsi transdermal,” ujarnya. 

Tim BRANOVATE terdiri atas Fauzia Amrina Rosyada dan Elvira Nathania Ardiani dari Program Studi Farmasi angkatan 2023, Aurora Khanifa Jati dan Cika Aida Pusparani dari Program Studi Farmasi angkatan 2024, serta Najwa Rachma Marsanti dari Program Studi Kedokteran angkatan 2025. Penelitian ini didampingi Dr. apt. Adhyatmika dari UGM. 

Halaman Selanjutnya
img_title