Bekatul Jadi Bahan Plester, Mahasiswa UGM Bidik Terapi Dislipidemia

Tim PKM-RE BRANOVATE Universitas Gajah Mada
Sumber :
  • Viva Jogja

YOGYAKARTA, VIVA Jogja – Bekatul yang selama ini lebih dikenal sebagai hasil samping penggilingan padi mulai dilirik mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai bahan pengembangan kandidat terapi gangguan metabolik.

img_title UGM Kembangkan Sistem Berbasis AI untuk Prediksi Dini Wabah Demam Berdarah

Melalui Tim PKM-RE BRANOVATE, mahasiswa UGM mengembangkan plester transdermal berbasis nanoemulsi ekstrak bekatul beras putih sebagai kandidat terapi dislipidemia pada sindrom metabolik. Inovasi ini memadukan pemanfaatan senyawa bioaktif bekatul dengan teknologi penghantaran obat melalui kulit. 

Ketua Tim BRANOVATE, Fauzia Amrina Rosyada, mengatakan pengembangan tersebut berangkat dari persoalan dislipidemia yang menjadi salah satu komponen sindrom metabolik.

img_title PSPD UGM Soroti Pentingnya Peran Petani Kecil dalam Industri Sawit Berkelanjutan di Forum IMF-Bank Dunia

“Sindrom metabolik menjadi perhatian karena tidak hanya melibatkan gangguan gula darah, tetapi juga gangguan profil lipid atau dislipidemia yang dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular,” kata Fauzia dalam rilis yang dikirim tim Branovate. 

Bekatul Bukan Sekadar Limbah

img_title UGM Perkuat Hilirisasi Riset Lewat GIFTS 2026, Kantongi 51 Kerja Sama Strategis dan Dorong Yogyakarta Jadi Episentrum In

Dislipidemia merupakan kondisi gangguan profil lipid yang dapat ditandai antara lain dengan peningkatan kolesterol total, trigliserida, dan LDL. Kondisi tersebut berkaitan dengan pembentukan plak aterosklerosis dan dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. 

Selama ini, statin menjadi salah satu terapi utama untuk membantu menurunkan kadar lipid. Namun, menurut latar belakang penelitian BRANOVATE, terapi jangka panjang masih memiliki tantangan, termasuk persoalan efek samping dan kebutuhan terhadap alternatif sistem penghantaran. 

Dari persoalan tersebut, tim kemudian melihat peluang pada bekatul beras putih atau Oryza sativa L. yang merupakan hasil samping proses penggilingan padi. Bahan tersebut mengandung sejumlah komponen bioaktif, salah satunya γ-oryzanol, yang berdasarkan penelitian sebelumnya memiliki potensi membantu memperbaiki profil lipid. 

Namun, menjadikan bekatul sebagai kandidat bahan terapi bukan perkara sederhana. Tantangannya antara lain berkaitan dengan penghantaran dan bioavailabilitas, sehingga BRANOVATE mengembangkan ekstrak bekatul terlebih dahulu dalam sistem nanoemulsi sebelum diformulasikan menjadi plester transdermal.

Dibuat dalam Bentuk Plester

Dalam rancangan penelitian tersebut, nanoemulsi digunakan untuk membentuk sistem penghantaran dengan ukuran droplet berskala nano serta karakteristik fisik yang dapat dioptimalkan. Tim menggunakan miglyol sebagai fase minyak, Tween 80 sebagai surfaktan, propilen glikol sebagai kosurfaktan, dan isopropil alkohol sebagai penetration enhancer. 

Formula nanoemulsi kemudian dirancang untuk dimasukkan ke dalam matriks plester transdermal berbasis hydroxypropyl methylcellulose (HPMC). Dalam formulasi tersebut, gliserin digunakan sebagai plasticizer, sedangkan natrium metabisulfit berfungsi sebagai antioksidan. 

Pengujian juga dirancang untuk melihat efektivitas formulasi tersebut. Pada tahap in vivo, penelitian menggunakan 25 tikus jantan yang dibagi secara acak menjadi lima kelompok, yakni kontrol normal, kontrol negatif sindrom metabolik, kontrol positif dengan statin, kelompok plester plasebo, serta kelompok yang mendapat plester nanoemulsi ekstrak bekatul. 

Model sindrom metabolik pada hewan uji dibentuk melalui induksi lemak dan streptozotocin-natrium atau STZ-Na. Efektivitas perlakuan nantinya dievaluasi berdasarkan perubahan parameter profil lipid, terutama kolesterol total, trigliserida, dan LDL.

Penelitian Belum Sampai Tahap Uji In Vivo

Hingga tahap pelaporan kemajuan, tim telah menyelesaikan preparasi dan ekstraksi bekatul serta analisis awal ekstrak. Profiling awal juga dilakukan menggunakan kromatografi lapis tipis atau KLT, disusul optimasi formulasi nanoemulsi. 

Tim selanjutnya telah menyelesaikan karakterisasi nanoemulsi dan pembuatan plester. Tahap berikutnya adalah menyelesaikan uji pelepasan serta pengujian in vivo untuk mengevaluasi perubahan profil lipid pada hewan uji. 

Artinya, inovasi BRANOVATE saat ini masih berada pada tahap penelitian dan pengembangan kandidat terapi, bukan produk obat yang telah terbukti efektif digunakan pada manusia. Hasil penelitian nantinya diharapkan dapat menjadi bukti praklinis awal untuk pengembangan sistem penghantaran berbasis bekatul.

Fauzia menjelaskan, kekuatan utama penelitian tersebut terletak pada upaya menggabungkan bahan alam dengan teknologi penghantaran obat. Menurut dia, tim tidak hanya mengeksplorasi kandidat bahan aktif untuk dislipidemia, tetapi juga mencoba menjawab tantangan formulasi dan penghantarannya. 

“Di tengah permasalahan tersebut, kami melihat limbah bekatul beras putih memiliki kandungan yang berpotensi membantu memperbaiki profil lipid. Namun, pemanfaatannya secara oral masih memiliki keterbatasan bioavailabilitas, sehingga kami mengembangkan bekatul dalam bentuk nanoemulsi transdermal,” ujarnya. 

Tim BRANOVATE terdiri atas Fauzia Amrina Rosyada dan Elvira Nathania Ardiani dari Program Studi Farmasi angkatan 2023, Aurora Khanifa Jati dan Cika Aida Pusparani dari Program Studi Farmasi angkatan 2024, serta Najwa Rachma Marsanti dari Program Studi Kedokteran angkatan 2025. Penelitian ini didampingi Dr. apt. Adhyatmika dari UGM. 

Selain aspek kesehatan, penelitian tersebut membawa gagasan pemanfaatan hasil samping pertanian menjadi produk bernilai tambah. Tim menargetkan hasil penelitian dapat menjadi bukti praklinis awal bagi pengembangan sistem penghantaran berbasis bekatul sekaligus membuka peluang pemanfaatan bekatul dalam inovasi farmasi. 

Pengembangan BRANOVATE juga dikaitkan dengan kontribusi UGM terhadap sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs. Di antaranya SDG 3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera, SDG 9 mengenai industri, inovasi, dan infrastruktur, serta SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. 

Dengan demikian, yang ditawarkan BRANOVATE bukan sekadar mengubah bekatul menjadi plester. Penelitian tersebut mencoba mempertemukan dua persoalan sekaligus: mencari kandidat pendekatan baru untuk gangguan profil lipid dan meningkatkan nilai guna bahan yang selama ini berada di sisi hilir industri penggilingan padi.