Tim Reactics UGM Juara ChemCar Competition di Jerman, Harumkan Nama Indonesia
- Dok Humas UGM
VIVA Jogja - Tim Reactics Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil mengukir prestasi internasional dengan meraih Juara 1 pada ajang bergengsi ChemCar-Competition by kJVI of the VDI Germany 2026 yang berlangsung di Electrochemistry Centre, Bayreuth, Jerman, pada 22–23 September 2026. Kompetisi ini mempertemukan tim mahasiswa dari berbagai negara untuk beradu inovasi dalam pengembangan mobil berbasis reaksi kimia dengan sistem penghentian otomatis.
Tim Reactics UGM dipimpin oleh Violin Frastica dari Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika, dengan anggota Alvito Rizki Sidartawan dan Riyo Yusuf Setyawan dari Departemen Teknik Mesin dan Industri, serta Bremani Sirat Atmaja dan Ichwan Amirudin dari Departemen Teknik Kimia. Keberhasilan mereka menjadi kebanggaan tersendiri karena Reactics merupakan satu-satunya tim non-Eropa yang berhasil meraih posisi puncak dalam kompetisi tersebut.
Violin Frastica menuturkan bahwa kemenangan ini merupakan buah dari persiapan panjang dan proses pengembangan yang penuh tantangan. “Kemenangan ini bukan hanya soal menjadi juara, tetapi juga tentang bagaimana kami tumbuh bersama, melewati proses, dan belajar dari setiap hambatan,” ujarnya.
Tantangan Suhu Ekstrem
Salah satu tantangan besar yang dihadapi tim adalah perbedaan kondisi lingkungan antara Indonesia dan Jerman. Saat trial malam hari, suhu turun hingga 2°C, memengaruhi laju reaksi kimia yang digunakan dalam sistem mobil. Perubahan tersebut membuat waktu penghentian mobil mencapai dua kali lipat dari estimasi awal. “Perubahan suhu membuat kami harus melakukan kalibrasi ulang dan pengambilan data intensif. Semua rasa lelah akhirnya terbayar ketika kami berhasil meraih Juara 1,” ungkap Bremani.
Tim Reactics melakukan penyesuaian sistem dengan memetakan ulang pola reaksi dan menentukan parameter waktu yang lebih presisi. Proses ini menunjukkan pentingnya kemampuan beradaptasi, ketelitian membaca kondisi lapangan, serta iterasi berulang dalam pengembangan sistem.
Dalam kompetisi tersebut, mobil Reactics menggunakan Aluminium–Air Battery sebagai sumber energi, dengan aluminium sebagai anoda dan udara sebagai sumber oksigen pada katoda. Sistem ini dikembangkan untuk menghasilkan suplai listrik yang stabil dan mencukupi kebutuhan motor.
Sementara itu, mekanisme penghentian mobil memanfaatkan Brilliant Blue sebagai indikator perubahan kondisi larutan. Selama mobil bergerak, reaksi kimia menyebabkan perubahan warna larutan dari biru menjadi bening. Sensor mendeteksi perubahan tersebut dan mengaktifkan sistem penghentian otomatis. Inovasi ini menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan tim dalam menghadapi kompetisi internasional.