Muhammadiyah Siapkan Peta Jalan Karier Dosen Menuju Guru Besar
- jogja.viva.co.id/ Ken F
BANTUL, VIVA Jogja – Jumlah profesor di perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) masih relatif sedikit dibandingkan jumlah kampus yang ada. Kondisi ini mendorong perlunya strategi bersama untuk memperkuat kualitas akademik sekaligus memperluas akses terhadap kepakaran guru besar. Dalam Forum Silaturahmi Guru Besar PTMA se-Indonesia yang digelar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Jumat (09/10/2026), Ketua Panitia Sidik Jatmika menegaskan pentingnya peta jalan karier dosen menuju jabatan profesor.
Sidik menyampaikan bahwa menjadi profesor tidak cukup hanya mengandalkan masa kerja. Dosen perlu menyiapkan perencanaan karier sejak awal agar memenuhi persyaratan akademik secara terarah. Menurutnya, pembinaan karier dosen harus dimulai sejak seseorang pertama kali memasuki dunia akademik. Selama ini, dosen baru lebih banyak mendapat pembekalan mengenai metode mengajar dan administrasi akademik, padahal perencanaan untuk mencapai jabatan profesor juga perlu menjadi bagian penting dalam pengembangan karier. “Semua dosen baru itu sudah harus punya mimpi menjadi profesor,” ujarnya.
Ia mencontohkan, seorang dosen baru yang bergelar doktor pada 2026 perlu memiliki target jangka panjang untuk meraih jabatan profesor. “Misalnya sudah doktor tahun ini, pada 2038 atau sekitar 12 tahun kemudian ada target sudah profesor, dengan catatan seluruh persyaratan terpenuhi,” jelasnya. Sidik menekankan bahwa perjalanan karier dosen melewati sejumlah jenjang jabatan akademik, mulai dari asisten ahli, lektor, lektor kepala, hingga profesor. Selama ini, pembinaan menuju guru besar cenderung menyasar dosen yang sudah berada pada jenjang karier tinggi, padahal pendekatan tersebut belum cukup untuk membangun ekosistem akademik yang kuat.
Menurut Sidik, dosen perlu memahami sejak awal bagaimana kegiatan pengajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, publikasi ilmiah, dan aktivitas profesional dapat mendukung perkembangan kariernya. Karena itu, PTMA didorong membantu dosen menyusun peta jalan yang terukur. Perencanaan tersebut mencakup target kegiatan akademik dan pengembangan kepakaran dalam rentang waktu tertentu. Ia menilai, perencanaan sejak awal juga membantu dosen menjaga konsistensi bidang keilmuan. “Dengan fokus pada bidang yang ditekuni, penelitian dan publikasi dapat berkembang secara berkesinambungan,” lanjutnya.
Forum Silaturahmi Guru Besar PTMA se-Indonesia menjadi wadah untuk membahas gagasan pembinaan karier dosen tersebut. Saat ini, terdapat 162 perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di Indonesia dengan sekitar 500 profesor. Namun, baru 45 kampus yang memiliki guru besar, sedangkan 117 kampus lainnya belum memiliki profesor. Kondisi ini menunjukkan perlunya strategi bersama agar kualitas akademik di seluruh PTMA dapat meningkat secara merata.