UGM Pertahankan Predikat Five Star Plus Kampus Sehat ASEAN
- Dok Humas UGM
Pada aspek kesehatan mental, UGM mengembangkan dukungan melalui chatbot Lintang yang digunakan untuk skrining kesehatan mental, sosialisasi kesejahteraan mental, serta penguatan dukungan sebaya di fakultas. Sivitas akademika yang membutuhkan bantuan lebih lanjut dapat memanfaatkan layanan kesehatan mental sebagai bagian dari sistem rujukan. Menurut Fatwa, penguatan layanan tersebut perlu berjalan seiring dengan upaya mengurangi stigma agar warga kampus lebih terbuka dalam mencari bantuan. “Dukungan sebaya di banyak fakultas sudah berjalan cukup baik dan akan kita perkuat lagi,” katanya.
Pelaksanaan HPU di UGM dilakukan melalui koordinasi antara kebijakan universitas dan inisiatif masing-masing fakultas, sekolah, serta unit kerja. Tim HPU UGM memiliki sembilan kelompok kerja (Pokja), sementara fakultas memiliki penanggung jawab yang mengembangkan program sesuai kebutuhan di lingkungannya. Koordinasi rutin, pertukaran praktik baik, dan kolaborasi antarfakultas menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan program. Salah satu contohnya ialah kegiatan aktivitas fisik dan Posbindu yang melibatkan sejumlah fakultas di klaster kesehatan, termasuk senam bersama yang diselenggarakan secara bergiliran setiap bulan. “Kita tidak memaksa setiap fakultas untuk menyelenggarakan program yang sama, karena yang paling tahu program dan kebutuhannya adalah fakultas sendiri,” jelas Fatwa.
Untuk mengetahui dampak program secara lebih akurat, Tim HPU UGM memperkuat pengumpulan data kesehatan dan perilaku sivitas akademika. Salah satu langkahnya adalah melaksanakan survei dengan cakupan responden yang lebih representatif dari unsur mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan di berbagai unit. Hasil survei diharapkan menjadi dasar evaluasi dan penyusunan program yang lebih sesuai dengan kebutuhan warga kampus. Pemanfaatan data pemeriksaan kesehatan juga berpotensi mendukung evaluasi, dengan tetap memperhatikan dasar penggunaan data yang sah, kerahasiaan, dan analisis dalam bentuk agregat. “Harapannya, partisipasi dari seluruh sivitas cukup tinggi sehingga kita bisa melihat permasalahan dengan lebih baik dan mengetahui dampaknya,” ujarnya.
Fatwa mengakui bahwa perubahan perilaku hidup sehat menghadapi tantangan berupa kebiasaan yang sudah terbentuk dan lingkungan yang belum selalu mendukung. Ketersediaan serta keterjangkauan makanan sehat, fasilitas aktivitas fisik yang aman, dan akses terhadap layanan kesehatan mental menjadi beberapa hal yang perlu terus diperhatikan. Di lingkungan universitas dengan kebutuhan sivitas yang beragam, pengembangan program perlu disesuaikan secara berkala agar kebijakan yang diterapkan relevan dengan kondisi di lapangan. Karena itu, masukan dari mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan dibutuhkan untuk memperbaiki program maupun lingkungan kampus. “Kami membutuhkan masukan dari seluruh sivitas untuk memperbaiki kebijakan, program, maupun lingkungan agar bisa mendukung perubahan perilaku menjadi lebih sehat dan membudaya,” paparnya.