Cegah Kecurangan, UGM Perketat Prosedur Validasi Peserta UM
- Humas UGM
YOGYAKARTA, VIVA Jogja – Untuk mencegah praktik kecurangan selama proses seleksi, Universitas Gadjah Mada (UGM) memperketat prosedur validasi identitas dan sistem pengawasan dalam pelaksanaan Ujian Mandiri UGM Computer Based Test (UM UGM CBT) 2025.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya UGM untuk menjaga kredibilitas dan integritas sistem penerimaan mahasiswa baru. Proses seleksi yang transparan menjadi pijakan penting bagi UGM dalam menjaring calon mahasiswa unggulan dari seluruh Indonesia. Dengan peserta lebih dari 34 ribu orang, sistem seleksi harus berjalan akurat, adil, dan bebas dari celah manipulasi.
Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran, Prof Dr Wening Udasmoro menjelaskan bahwa berbagai potensi kecurangan telah diantisipasi secara menyeluruh melalui sistem validasi ganda. Sistem validasi ini diterapkan secara seragam di semua lokasi ujian, baik di Yogyakarta maupun Jakarta. Petugas di lapangan juga telah mendapatkan pelatihan khusus untuk mengenali potensi kecurangan dan melakukan verifikasi berlapis. “Kami memastikan bahwa peserta yang hadir adalah benar-benar calon mahasiswa yang terdaftar. Mereka wajib membawa kartu ujian asli, kartu identitas diri seperti KTP atau paspor, serta dokumen pendukung seperti ijazah atau surat keterangan lulus yang memuat foto dan identitas,” ungkapnya saat ditemui di sela kegiatan monitoring ujian, Sabtu (05/07/2025).
Selain pemeriksaan identitas berlapis, UGM juga menyiapkan metal detector dan melakukan pengecekan fisik untuk memastikan tidak ada perangkat yang mencurigakan dibawa peserta ke dalam ruang ujian. Pengawasan ruang ujian dilakukan secara ketat oleh tim pengawas yang telah dibekali panduan standar operasional. Setiap sesi ujian dipantau dalam sistem tertutup untuk menjaga ketertiban dan mendeteksi pelanggaran sejak dini. “Kami bahkan menyediakan seluruh alat tulis di lokasi, sehingga peserta tidak perlu membawa barang pribadi yang bisa disalahgunakan,” papar Wening.
Ditambahkan Direktur Pendidikan dan Pengajaran, Prof Dr Gandes Retno Rahayu, semua proses verifikasi peserta dan koordinasi teknis dilakukan secara terpusat dan tersistem. UGM juga membangun sistem koordinasi digital agar seluruh panitia di lapangan dapat merespons situasi secara cepat dan seragam. Hal ini menjadi bukti bahwa profesionalisme menjadi standar utama dalam pelaksanaan seleksi di UGM. “Kami sudah broadcast informasi teknis kepada seluruh petugas ujian. Tidak ada ruang untuk bypass atau kelonggaran prosedur. Jika ada peserta yang tidak memenuhi syarat administrasi, maka secara otomatis akan ditolak mengikuti ujian,” tegasnya.