Dari “Kubur Mimpi” ke UGM: Perjalanan Izzat Menembus Batas

Izzat El Umam Setiadi, remaja 18 tahun asal Cilacap (tengah) bersama orangtuanya
Sumber :
  • Dok Humas UGM

VIVA Jogja - Kalimat “Kubur saja mimpinya” pernah menjadi pengingat pahit bagi Izzat El Umam Setiadi, remaja 18 tahun asal Cilacap. Saat ia menyampaikan keinginan melanjutkan pendidikan ke Universitas Gadjah Mada (UGM), banyak yang menilai langkah itu terlalu tinggi. Sekolah asalnya jarang sekali melahirkan mahasiswa UGM, sehingga harapan itu dianggap mustahil. Namun bagi Izzat, mimpi bukan untuk dikubur, melainkan diperjuangkan. Keyakinan itulah yang akhirnya mengantarkannya menjadi mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian UGM dengan status UKT 0.

img_title UGM Kembangkan TBScreen.AI untuk Percepat Skrining Tuberkulosis di Wilayah Terpencil

Perjalanan menuju kampus impian bukanlah jalan mulus. Sejak kecil, Izzat sudah terbiasa menghadapi kegagalan. Ia pernah gagal masuk SMP dan SMA favorit, tetapi pengalaman itu justru membentuk mental pantang menyerah. “Dari pengalaman itu saya belajar enggak apa-apa gagal, yang penting terus mencoba,” ujarnya. Semangat itu terus ia bawa hingga bangku SMA, ketika mulai mengenal kehidupan akademik UGM lewat media sosial. Sejak kelas X, ia menetapkan satu tujuan besar: menembus kampus yang selama ini dianggap terlalu tinggi untuknya.

Di SMAN 1 Sampang, Cilacap, Izzat aktif membangun portofolio. Ia mengikuti Olimpiade Sains Nasional bidang Geografi hingga lolos ke tingkat provinsi, meraih peringkat keempat di tingkat kabupaten. Ia juga menjuarai lomba Ekonomi Syariah di Universitas Jenderal Soedirman, serta aktif di English Club selama dua tahun. Semua pengalaman itu ia anggap sebagai bekal membangun kemampuan, mentalitas, dan jejaring. Persiapan menghadapi Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT) ia intensifkan sejak kelas XI, meski sadar peluangnya kecil.

img_title Tim Gelora UGM Raih Most Impact Award di Ajang U21 RISE 2026

Menjelang pengumuman Ujian Mandiri UGM, kegelisahan semakin terasa. Hampir setiap malam ia bangun untuk salat tahajud, berharap pintu terakhir menuju UGM terbuka. Ketika pengumuman resmi menyatakan dirinya lolos, rasa syukur tak terbendung. Ia segera bersujud syukur, memeluk kedua orang tuanya, dan merasakan kebahagiaan yang sulit digambarkan. Kebahagiaan itu semakin lengkap ketika ia mengetahui memperoleh UKT 0. Baginya, kebijakan tersebut bukan sekadar meringankan biaya, tetapi membuka ruang untuk fokus mengembangkan diri. Dana yang semula disiapkan untuk kuliah bisa dialihkan untuk seminar, pelatihan, dan kegiatan pengembangan keterampilan.

Halaman Selanjutnya
img_title