Penanganan Pertama Menentukan Hidup dan Mati Kasus Gigitan Ular
- Istimewa
VIVA Jogja - Setiap tahun, Indonesia mencatat lebih dari 135.000 kasus gigitan ular. Angka ini belum termasuk kasus-kasus yang luput dari pencatatan resmi. Dari jumlah tersebut, sekitar 10 persen berujung pada kematian. Ironisnya, penyebab utama bukan karena ketiadaan antivenom, melainkan kesalahan dalam penanganan pertama.
Hal ini diungkapkan oleh Dr dr Tri Maharani, dokter spesialis toksikologi ular berbisa, di Program Magister Ilmu Kedokteran Tropis Universitas Gadjah Mada.
Dalam pemaparannya, Dr Maharani menjelaskan, masyarakat perlu memahami perbedaan antara ular berbisa dan tidak berbisa. Ular tak berbisa biasanya memiliki taring besar dan bekas gigitan yang menyerupai goresan atau cakaran. Sebaliknya, ular berbisa meninggalkan bekas gigitan seperti tusukan jarum akibat taring bisa yang lebih kecil dan tajam.
Namun, perubahan iklim yang ekstrem telah memicu mutasi pada spesies ular, membuat perbedaan ini semakin sulit dikenali, terutama oleh masyarakat awam. “Karena itu, anggaplah semua ular yang kita temui sebagai ular berbisa. Jangan sembarangan mendekati atau memegangnya,” tegasnya.
Ular: Buta, Tuli, dan Peka Getaran
Maharani juga mengingatkan bahwa ular sebenarnya memiliki penglihatan yang buruk dan tidak memiliki telinga luar. Mereka ‘mendengar’ melalui getaran tanah yang ditangkap oleh sisik perut dan rahang bawah. Maka, cara terbaik untuk menghindari ular adalah dengan tidak menimbulkan getaran atau panas berlebih.
“Kalau melihat ular, lebih baik kita pergi. Dalam bahasa Jawa, sing waras ngalah—karena kita waras, kita mengalah. Jangan membuat perkara. Kalau tidak sengaja menginjak, pelan-pelan saja perginya,” ujarnya.
Ada dua jenis racun utama pada ular yakni neurotoksin, yang menyerang sistem saraf dan dapat menyebabkan kelumpuhan otot, termasuk otot pernapasan. Gejalanya meliputi mata yang tidak bisa digerakkan dan kesulitan bernapas, dan hematotoksin, yang merusak darah dan pembuluhnya, menyebabkan pendarahan spontan, pembengkakan, dan rasa sakit hebat.
Menurut Dr Maharani, penanganan pertama yang benar adalah dengan melakukan imobilisasi pada area gigitan. Tujuannya adalah memperlambat penyebaran racun melalui sistem getah bening. Ia menekankan bahwa metode tradisional seperti menyiram air panas, menghisap racun dengan mulut, mengompres es, atau membakar luka justru memperparah kondisi.