Tertinggal, UMY Dorong Penguatan Riset Kampus

Wakil Rektor UMY Riset Inovasi dan Hilirisasi dr Supriyatiningsih
Sumber :
  • Istimewa

YOGYAKARTA, VIVA  Jogja - Posisi Indonesia dalam peta inovasi dan publikasi ilmiah global masih tertinggal dibanding negara-negara maju. Meski jumlah publikasi ilmiah terus meningkat, kontribusi Indonesia baru menonjol di tingkat Asia Tenggara dan belum mampu menembus dominasi global. Hal ini menjadi perhatian serius kalangan akademisi, termasuk Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), yang menilai perlunya penguatan ekosistem riset secara menyeluruh.

img_title Muhammadiyah Dorong Evaluasi Ormas Berbasis Hukum dan Data

Dalam workshop daring bertajuk “Membangun Budaya Penelitian Inovatif”, Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Hilirisasi UMY, Dr Med dr Supriyatiningsih menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak cukup hanya mengejar kuantitas publikasi. Menurutnya, riset harus memberi dampak nyata bagi masyarakat, industri, dan kebijakan publik.

“Kalau bicara posisi publikasi, di ASEAN kita cukup terlihat. Namun secara global, Indonesia masih berjalan pelan. Ini menjadi keprihatinan bersama, khususnya bagi perguruan tinggi yang ingin masuk jajaran 500 besar dunia,” ujar dr Upi.

img_title Inovasi Anak Panti Muhammadiyah, Madu Surya Asy-Sifa Jadi Bukti Kemandirian di Tengah Kota

dr. Upi menyebutkan bahwa membangun ekosistem riset tidak cukup dengan menambah laboratorium, tetapi juga menciptakan budaya kolaboratif lintas disiplin dan negara. UMY sendiri telah menjalin kemitraan dengan National University of Singapore (NUS) untuk pengembangan riset di bidang pendidikan dan teknologi.

Namun, tantangan besar masih membayangi. Banyak laboratorium kampus belum terakreditasi dan masih terkendala pendanaan. Proses administrasi yang rumit serta realisasi anggaran yang lambat membuat banyak penelitian tersendat.

img_title Majelisdiktilibang PP Muhammadiyah Tantang UMUKA Pasang Target Besar: Kalau Tak Ada Target Angka, Kita Tidur

“Banyak dosen sudah berusaha mengajukan proposal, tetapi mekanismenya berbelit. Bahkan ketika sudah berjalan, laporan pertanggungjawaban pun menyulitkan. Kondisi ini membuat motivasi riset tidak selalu tumbuh kuat,” jelasnya.

Selain itu, budaya riset di kampus belum sepenuhnya terbentuk. Riset masih dipandang sebagai kewajiban akademik, bukan sebagai strategi membangun daya saing bangsa. Padahal, hasil penelitian bisa diarahkan untuk menghasilkan paten dan inovasi yang siap diadopsi industri.

Strategi UMY: Kolaborasi Internasional dan Hilirisasi

Sebagai solusi, UMY tengah mengembangkan berbagai strategi penguatan riset, antara lain  pembentukan International Research Network (IRN), keterlibatan dosen dan peneliti dalam forum riset internasional, kehadiran visiting professor dan visiting researcher dari berbagai negara dan akreditasi ISO untuk laboratorium kampus. UMY juga menargetkan puluhan paten baru dari riset dosen dan mahasiswa tahun ini. Beberapa hasil penelitian bahkan mulai dimanfaatkan oleh mitra Muhammadiyah di bidang kesehatan dan pendidikan.

Halaman Selanjutnya
img_title