ASIK: Anak Muda Bergerak untuk Kesehatan Jiwa
- jogja.viva.co.id/Fuska Sani Evani
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Program ASIK (Aksi Sehat Jiwa: Inisiatif dan Kontribusi dari Orang Muda) yang digagas Yakkum Yogyakarta telah berjalan selama tujuh bulan. Siswaningtias Trinugraheni, Project Manager program ini, menekankan bahwa pencegahan dini dalam isu kesehatan mental sangat penting agar kasus tidak ditangani ketika sudah terlambat. Dari pengalaman program sebelumnya, ASIK hadir untuk memperkuat peran anak muda, terutama di lingkungan sekolah, dalam menyadari kondisi diri dan berpartisipasi membangun sistem pendukung yang sehat.
Kepada media di Yogyakara, Rabu (10/12/2025) Siswaningtias, memaparkan anak muda sering tertinggal dalam berbagai isu, termasuk kesehatan mental. Karena itu, ASIK berusaha menjembatani perspektif mereka dengan layanan yang tersedia. Program ini tidak hanya berupa pelatihan, tetapi juga mendorong ide-ide kreatif dan cerita personal yang dekat dengan kehidupan remaja. Harapannya, kebutuhan mereka dapat ditangkap sebagai sesuatu yang penting, termasuk ketika harus terhubung dengan layanan kesehatan.
Meski akses layanan kesehatan mental di perkotaan relatif mudah, banyak remaja masih enggan datang ke puskesmas atau psikolog. Keengganan itu bukan hanya berasal dari diri mereka sendiri, tetapi juga dipengaruhi orang tua, teman, dan lingkungan sekitar. “Kami ingin mengajak anak muda bahwa merasa tidak baik-baik saja itu wajar. Masalah kesehatan jiwa sama seperti maag atau asam lambung. Tidak perlu distigma,” ujar Siswaningtias. Ia menambahkan, keterbukaan sangat penting agar kasus tidak ditemukan dalam kondisi sudah akut, seperti depresi berat atau bahkan keinginan mengakhiri hidup.
Saat ini, ASIK baru diterima di empat sekolah: SMA Negeri 1 Seyegan, SMA Negeri 1 Godean, SMA Negeri 1 Wonosari, dan SMA Negeri 2 Playen. “Masuk ke sekolah bukan hal mudah karena masih ada stigma bahwa isu kesehatan jiwa identik dengan kasus berat. Padahal, bagi remaja, sekolah bisa menjadi ruang aman ketika mereka tidak nyaman di rumah. Guru dan teman sebaya dapat menjadi pelindung pertama,”katanya.
Program ini juga mengenalkan sistem rujukan sederhana. Rujukan tidak selalu berarti ke rumah sakit atau puskesmas, tetapi bisa berupa pertolongan pertama dari teman, guru, atau orang tua. Tahapan bantuan ini diharapkan membuat remaja lebih berani mencari pertolongan sebelum kondisi memburuk.