Inovasi Alat Deteksi Diabetes Lewat Napas
- bing image creatif
VIVA Jogja - Inovasi kesehatan kembali lahir dari kampus Universitas Gadjah Mada. Sekelompok mahasiswa lintas fakultas berhasil mengembangkan purwarupa alat deteksi dini diabetes melitus tanpa jarum suntik. Alat yang diberi nama Glycemia Breath Analyzer (Glyra) ini bekerja dengan menganalisis embusan napas penderita, menawarkan cara pemeriksaan yang lebih nyaman dibanding metode tusuk jari yang selama ini menjadi standar.
Ketua tim, Muhammad Nafal Zakin Rustanto, menjelaskan bahwa ide Glyra muncul dari tingginya prevalensi diabetes di Indonesia. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat, dua dari setiap seratus orang dewasa di tanah air menderita diabetes. “Pemeriksaan invasif sering menimbulkan ketidaknyamanan. Kami ingin menghadirkan metode yang lebih ramah bagi pasien,” ujarnya.
Cara kerja Glyra adalah mendeteksi biomarker berupa senyawa kimia yang dilepaskan melalui napas, seperti aseton, yang muncul ketika tubuh penderita diabetes membakar lemak sebagai sumber energi. Untuk itu, perangkat ini dilengkapi enam sensor gas berteknologi tinggi yang sensitif terhadap biomarker tertentu. Data yang ditangkap sensor kemudian diproses dengan algoritma kecerdasan buatan agar hasilnya akurat.
Tak hanya itu, Glyra juga terhubung dengan sistem Internet of Things (IoT), sehingga hasil pemeriksaan dapat dipantau secara real-time melalui laman khusus. “Prototipe hardware sudah jadi, sensor sudah terpasang, dan sistem listriknya berfungsi. Saat ini kami sedang mengembangkan dataset agar AI bisa dilatih dengan data riil,” terang anggota tim, Mirza Evrizqo Timmerman.
Tim yang beranggotakan lima mahasiswa—selain Nafal dan Mirza, juga Nathanael Satya Saputra, Alfito Putra Parindra, dan Muhammad Bintang Hidayatullah Marbun—berada di bawah bimbingan Dr. Eng. Ir. Igi Ardiyanto dari Fakultas Teknik UGM. Meski baru pertama kali mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), mereka mengaku dukungan dosen dan pendanaan dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kemdiktisaintek RI membuat proses pengembangan berjalan lancar.
Ke depan, tim Glyra berharap inovasi ini dapat menjadi solusi skrining dini yang lebih terjangkau dan mudah diakses masyarakat. Purwarupa yang kini sudah mencapai 80 persen pengembangan ditargetkan melangkah ke tahap uji klinis dan pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI). “Kami ingin alat ini benar-benar bisa membantu masyarakat memantau kondisi gula darah sehari-hari tanpa rasa sakit,” pungkas Nafal.