Bagus Muljadi Soroti Peran Perguruan Tinggi dalam Menghasilkan Riset Berdampak
- Humas FEB UGM
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan kembali menjadi sorotan dalam talk show bertajuk Higher Education for Impact & Adaptive Graduates yang digelar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM). Acara ini menghadirkan Bagus Muljadi, Assistant Professor dari University of Nottingham, dengan Wisnu Setiadi Nugroho, dosen Ilmu Ekonomi UGM, sebagai moderator.
Dalam diskusi yang berlangsung di Lantai 8 Pusat Pembelajaran FEB UGM, Bagus menekankan pentingnya peran perguruan tinggi tidak hanya sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai ruang lahirnya gagasan ilmiah yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman. Ia menyoroti tantangan mendasar berupa lemahnya kemampuan perguruan tinggi dalam merumuskan pertanyaan riset secara konkret.
“Kita hidup di tengah inkompetensi di mana otoritas tertinggi di dunia pendidikan tidak mengartikulasikan pertanyaan riset. Tidak menerjemahkan high level language seperti swasembada pangan, digitalisasi, atau AI menjadi pertanyaan riset,” ungkapnya.
Menurut Bagus, kualitas penelitian tidak hanya ditentukan oleh metodologi, tetapi juga oleh ketepatan pertanyaan yang dirumuskan. Ia mencontohkan Bell Labs yang mampu menghasilkan berbagai inovasi penting karena memulai penelitian dari pertanyaan riset yang jelas dan fundamental.
Ia juga menyinggung sistem insentif akademik yang masih berfokus pada publikasi dan sitasi sebagai indikator utama kinerja. Hal tersebut, menurutnya, perlu diimbangi dengan perhatian terhadap dampak sosial penelitian agar perguruan tinggi dapat berkontribusi nyata dalam menyelesaikan persoalan masyarakat.
Bagus menambahkan, di negara maju riset universitas tidak hanya didukung pemerintah, tetapi juga sektor swasta melalui kolaborasi dengan industri. Kolaborasi lintas pihak memungkinkan penelitian berkembang sekaligus tetap relevan dengan kebutuhan publik. Sebaliknya, pendanaan riset di Indonesia dinilai masih terbatas dan belum didukung kolaborasi yang kuat.
Selain itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas disiplin ilmu dalam mendorong inovasi. Banyak perkembangan ilmu pengetahuan lahir dari pertemuan berbagai bidang yang disatukan oleh pertanyaan penelitian yang sama. Namun praktik akademik yang tertutup dan kecenderungan academic inbreeding dinilai membatasi keberagaman perspektif di perguruan tinggi.