Adaptasi atau Tumbang: Mahasiswa Dihadapkan pada Realitas Kompeti
- Eizar Berliana
JEPARA, VivaJogja – Ruang aman itu sudah tidak ada. Mahasiswa yang memilih berjalan di tempat kini berhadapan langsung dengan satu konsekuensi: tertinggal.
Himpunan Mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga Islam (HMPS-HKI) UNISNU Jepara menutup rangkaian Islamic Law Event 2026 dengan pesan yang tegas dan tanpa kompromi berkembang atau tersingkir.
Glow-Up Session bertajuk “Upgrade Diri Menuju Masa Depan” yang digelar di Auditorium Perpustakaan Lantai 4 UNISNU Jepara, Minggu (12/4), menjadi titik klimaks sekaligus garis demarkasi yang jelas, siapa yang siap bersaing, dan siapa yang akan tergerus oleh perubahan.
Kegiatan ini melampaui seremoni penutup.
Ia menjadi ruang tekanan yang secara sadar menguji cara berpikir, mentalitas, dan kesiapan mahasiswa menghadapi lanskap kompetisi yang kian agresif.
Muhammad Roykhan Rasyif Aulia menegaskan bahwa masa depan tidak ditentukan oleh latar belakang, melainkan oleh keberanian mengambil keputusan dan konsistensi dalam bertindak.
“Kita tidak ditentukan dari mana asal kita, tapi dari keputusan yang kita ambil ke depan,” tegasnya.
Pernyataan itu berfungsi sebagai alarm keras.
Dalam percepatan zaman yang tidak memberi jeda, kapasitas intelektual, kepercayaan diri, dan kesadaran hukum tidak lagi menjadi nilai tambah—melainkan baseline yang wajib dimiliki.
Atmosfer kompetisi mencapai puncaknya saat pengumuman pemenang Lomba Karya Tulis Ilmiah dan Orasi tingkat se-Karesidenan Pati. Daftar pemenang menjadi validasi nyata bahwa hanya mereka yang serius, disiplin, dan konsisten yang mampu menembus seleksi.
Juara I Karya Tulis Ilmiah diraih tim Hania Afanin dari SMA Muhammadiyah 2 Mayong, disusul tim Rahma Pravita Sari dari SMA Negeri 1 Jakenan sebagai Juara II, dan tim Tri Anisa Jayati dari MA Negeri 1 Jepara di posisi ketiga.
Pada kategori Orasi, Elisabet Hastagiani Putri dari SMA Negeri 1 Welahan meraih Juara I, diikuti Dela Ulviani Khofifah dari SMK Kholiliyah Bangsri sebagai Juara II, serta Ilun Labibatus Zahroh dari SMK Islam Jepara sebagai Juara III.
Penutupan ini menegaskan bahwa Islamic Law Event bukan sekadar agenda tahunan, melainkan arena seleksi nyata tempat kualitas diuji dan mentalitas dipertaruhkan secara terbuka.