UMY Perkuat Pendidikan Inklusif dengan Pembelajaran Multimodal
- Dok UMY
BANTUL, VIVA Jogja - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menegaskan komitmennya terhadap pengembangan pendidikan inklusif melalui kegiatan “Pembelajaran Bahasa Inggris Multimodal untuk Slow Learners” yang digelar di SMA PGRI Yogyakarta pada Jumat, 24 April 2026. Kegiatan ini menyasar guru dan wali murid sebagai upaya memperkuat praktik pendidikan inklusif di sekolah, sekaligus menjadi bagian dari pengabdian masyarakat yang konsisten dilakukan UMY.
Dosen Pendidikan Bahasa Inggris UMY sekaligus Ketua Himpunan Disabilitas Muhammadiyah DIY, Jati Suryanto, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari riset dan pengabdian yang fokus pada pendidikan inklusi, khususnya bagi peserta didik dengan kebutuhan belajar beragam. Menurutnya, meski kegiatan ini berfokus pada pembelajaran bahasa Inggris, konsep multimodal dapat diterapkan pada semua mata pelajaran.
Jati menekankan bahwa proses pembelajaran bagi slow learners tidaklah mudah, baik bagi guru maupun orang tua. Tantangan utama yang sering muncul adalah kurangnya sinergi antara keduanya dalam memahami kebutuhan belajar siswa. Padahal, pendidikan inklusif menuntut kolaborasi yang kuat antara sekolah dan keluarga. “Sering kali terjadi saling mengandalkan antara guru dan orang tua. Padahal, keduanya harus saling memahami dan bekerja sama,” ujarnya.
Dalam kegiatan ini, UMY memperkenalkan metode pembelajaran multimodal, yaitu pendekatan yang memanfaatkan berbagai cara dan media sesuai karakteristik siswa. Metode ini mempertimbangkan gaya belajar, kondisi peserta didik, hingga lingkungan belajar, sehingga setiap siswa dapat memperoleh pengalaman belajar yang sesuai dengan kebutuhannya. “Setiap anak memiliki kecepatan dan cara belajar yang berbeda. Pendekatan multimodal membantu menjembatani perbedaan tersebut,” tambah Jati.
Ia menegaskan bahwa pendidikan harus dapat diakses oleh semua kalangan tanpa terkecuali, termasuk penyandang disabilitas fisik, sensorik, maupun intelektual. Kesetaraan pendidikan, menurutnya, tidak hanya soal akses, tetapi juga metode pembelajaran yang tepat. “Semua orang memiliki hak yang sama untuk belajar. Yang perlu disesuaikan adalah bagaimana cara kita mengajarkannya,” tegasnya.
Kegiatan ini dirancang dalam dua sesi utama, yakni penguatan bagi guru dan orang tua serta praktik pembelajaran bagi siswa. Peserta diajak berdiskusi sekaligus menyaksikan secara langsung penerapan metode pembelajaran yang sesuai. Melalui pendekatan ini, diharapkan tercipta kolaborasi yang lebih kuat antara guru dan orang tua dalam mendampingi proses belajar siswa.