UGM Dorong Kedaulatan Pangan Lewat Inovasi Agrivoltaic
- Dok Humas UGM
SLEMAN, VIVA Jogja - Universitas Gadjah Mada (UGM) memperkenalkan teknologi agrivoltaic sebagai terobosan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mendukung ketahanan energi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2021 menunjukkan bahwa lebih dari 89 persen lahan pertanian di Indonesia belum memenuhi standar produktivitas berkelanjutan. Penyebabnya beragam, mulai dari penggunaan bahan kimia berlebihan, pengolahan tanah yang tidak ramah lingkungan, hingga konflik sosial. Kondisi ini diperparah oleh dampak perubahan iklim, terutama ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino yang diperkirakan berlangsung hingga awal 2027.
Sebagai jawaban atas persoalan tersebut, Kepala Laboratorium Energi Terbarukan UGM, Ahmad Agus Setiawan, mengenalkan konsep agrivoltaic yang mengintegrasikan panel surya di atas lahan pertanian. Konsep ini terinspirasi dari keberhasilan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung di Waduk Cirata yang mampu menghasilkan daya hingga 190 MW. Teknologi ini mulai diterapkan di Desa Pandowoharjo, Sleman, dengan melibatkan masyarakat dan petani setempat sebagai pengelola utama. Ahmad Agus menekankan bahwa mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UGM juga akan membawa paket teknologi berupa panel surya dan akses internet berbasis Starlink ke daerah terpencil, sehingga masyarakat dapat tumbuh bersama teknologi yang mereka gunakan.
Inovasi ini dikembangkan bersama Prof Dr Bayu Dwi Apri Nugroho dari Fakultas Teknologi Pertanian UGM. Bayu menjelaskan bahwa smart farming berbasis agrivoltaic bertumpu pada tiga pilar utama: sistem informasi manajemen untuk pengambilan keputusan, pertanian presisi, serta optimalisasi berbasis robotik. Dengan pendekatan ini, petani dapat memperoleh data real-time mengenai kondisi lahan, kebutuhan pupuk, hingga kelembaban tanah. Bayu mencontohkan, sensor yang dipasang mampu mendeteksi kekurangan pupuk nitrogen sehingga petani dapat memberikan pupuk yang tepat, bukan sekadar menebak kebutuhan tanaman.
Meski demikian, penerapan teknologi di lahan terbuka menghadapi tantangan besar karena faktor cuaca yang tidak menentu. Untuk mengatasi hal ini, Bayu mengembangkan integrasi antara drone pemetaan, drone penyemprot, sensor cuaca, dan sensor tanah portabel. Kombinasi teknologi ini memungkinkan pemantauan kebutuhan tanaman secara presisi, sehingga efisiensi dan kualitas hasil pertanian dapat ditingkatkan.