Merayakan Imlek 2026: Refleksi Multikulturalisme dan Spirit Tahun Kuda Api
- Istimewa
VIVA Jogja - Tahun Baru Imlek kembali menjadi momentum besar bagi masyarakat Tionghoa di seluruh dunia. Di China, perayaan ini identik dengan arus mudik terbesar yang berlangsung selama 40 hari Festival Musim Semi. Tahun 2026 diperkirakan mencatat 9,5 miliar perjalanan lintas wilayah, mencakup aktivitas pulang kampung hingga pariwisata. Libur panjang yang menyertai Imlek dimanfaatkan masyarakat untuk berkumpul bersama keluarga, mempererat ikatan yang kerap renggang akibat jarak dan kesibukan.
Di Indonesia, Imlek memiliki makna yang lebih luas. Bukan sekadar perayaan etnis Tionghoa, melainkan juga simbol multikulturalisme yang tumbuh sejak era reformasi. Pengamat identitas dan multikulturalisme sekaligus dosen CRCS UGM, Evi Lina Sutrisno, menuturkan bahwa perayaan Imlek mulai digencarkan sejak masa Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Karnaval, pertunjukan barongsai, hingga festival budaya menjadi bagian dari wajah baru Indonesia yang lebih terbuka. Pada masa Presiden Megawati, Imlek bahkan ditetapkan sebagai hari libur nasional, sehingga semakin banyak komunitas Tionghoa merayakannya bersama etnis lain. “Tahun Baru Imlek merupakan festival rakyat yang multikultural,” ujarnya.
Cap Go Meh sebagai Penutup Rangkaian
Perayaan Imlek tidak berhenti pada satu hari. Lima belas hari setelah Imlek, masyarakat Tionghoa merayakan Cap Go Meh, yang tahun ini jatuh pada 3 Maret 2026. Festival bulan purnama ini menjadi penutup rangkaian Imlek sekaligus simbol penyempurnaan doa dan harapan di awal tahun. Di Indonesia, Cap Go Meh paling meriah berlangsung di Singkawang, Kalimantan Barat. Kota ini dikenal sebagai pusat perayaan yang memadukan budaya Tionghoa dan Dayak. Festival pedang, atraksi pisau, hingga pertunjukan ekstrem menjadi bagian dari tradisi yang diwariskan turun-temurun.
Shio dan Spirit Tahun Kuda Api
Budaya Tionghoa erat kaitannya dengan shio, dua belas lambang hewan dalam astrologi Tionghoa yang mewakili siklus tahunan. Setiap tahun dikombinasikan dengan elemen dari Teori Lima Unsur: Kayu, Api, Tanah, Logam, dan Air. Tahun 2026 dikenal sebagai Tahun Kuda Api.
Menurut Lina, kuda melambangkan energi, gerak, dan kekuatan, sementara api mencerminkan semangat sekaligus potensi konflik. Kombinasi keduanya menjadi refleksi agar masyarakat tetap aktif, bersemangat, dan tabah menghadapi tantangan. “Walaupun situasi dunia sedang tidak menentu, kita perlu menjaga semangat, mendapatkan energi positif dari kuda dan api untuk menghadapi segala kemungkinan,” jelasnya.