Andy Prayoga: Cedera yang Memicu Hasrat Menuju Podium Elit Downhill

Andy Prayoga
Sumber :
  • jogja.viva.co.id / Fuska Sani Evani

VIVA Jogja - Andy Prayoga kembali mencatatkan namanya di jajaran pembalap elit downhill Indonesia. Setelah sempat terhenti oleh cedera serius pada tahun 2025, ia kini bangkit dengan kemenangan beruntun yang menegaskan tekad dan disiplin yang tak tergoyahkan. Sosok yang dikenal berani mengambil risiko ini menuturkan perjalanan panjangnya, dari crash di Kelangon hingga kembali berdiri di podium teratas, sebagai sebuah kisah tentang ketekunan dan semangat juang.

img_title Bukit Klangon, Balkon Rahasia Merapi yang Bikin Wisatawan Ketagihan Berburu Sunrise dan Adrenalin

Tahun lalu menjadi titik balik yang penuh pelajaran. Andy mengalami patah tulang dan bahkan sempat memaksakan diri untuk tetap berlomba hanya dua minggu setelah cedera. Keputusan itu berujung pada jatuh yang lebih parah, membuatnya harus menepi lebih lama dan kehilangan peluang di seri kedua dan ketiga. Dari pengalaman pahit itu, ia belajar bahwa pemulihan adalah bagian penting dari strategi kemenangan. “Kunci kemenangan itu saya belajar dari hal-hal yang kemarin. Saya lebih fokus ke recovery, penyembuhan beberapa patah tulang saya di tahun 2025 dan akhirnya Januari sudah pulih,” ujarnya.

Sejak awal tahun, Andy menjalani program intensif di gym dan latihan endurance. Ia menekankan bahwa trek downhill yang teknikal, curam, dan penuh batu besar menuntut kekuatan fisik ekstra. Latihan di gym menjadi modal utama untuk menghadapi lintasan yang menantang. “Saya banyakin di gym karena tracknya ini teknikal dan juga curam dan batuannya besar-besar,” katanya. Hasilnya terlihat jelas: di seri pertama tahun ini, ia kembali menjadi yang tercepat dan juara, sebuah pencapaian yang ingin ia pertahankan hingga seri ketiga demi meraih gelar overall.

img_title Milatul Khaqimah, Dari Meja Operasi ke Podium Utama Bukit Hijau

Meski begitu, Andy tidak hanya memikirkan kemenangan jangka pendek. Ia menatap tahun 2026 dengan ambisi lebih besar, yakni menjaga konsistensi dan disiplin agar bisa mengejar gelar juara umum. Baginya, setiap balapan adalah pertaruhan total. “Kalau saya setiap balapan selalu alawis gestor, apapun yang terjadi. Jatuh atau finis. Pilihannya cuma dua, kalau nggak jatuh juara,” tegasnya. Filosofi sederhana namun keras ini mencerminkan mentalitas seorang pembalap downhill sejati.

Selain fisik dan mental, faktor teknis juga menjadi penentu. Andy mengungkapkan bahwa pemilihan sepeda sangat berpengaruh terhadap hasil lomba. Tahun lalu, ia sempat menggunakan sepeda enduro di seri kedua dan mengalami crash parah yang berujung flek di paru-paru akibat benturan rusuk. Kini, ia lebih percaya pada sepeda downhill yang sesuai dengan karakter lintasan. “Untuk sepeda tahun lalu seri 1 juga saya pakai sepeda downhill karena tracknya terlalu curam dan teknikal. Seri 2 saya menggunakan sepeda enduro dan ternyata harus mengalami crash parah,” kenangnya. Tahun ini, regulasi dan desain trek yang lebih sesuai dengan downhill membuatnya optimistis bisa tampil maksimal.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title Bukit Hijau Jadi Panggung Kebangkitan, Milatul dan Andy Warnai Seri Perdana 76 Indonesian Downhill 2026