Labuhan 2026: Merapi, Parangkusumo, Lawu, dan Jejak Ngapem di Keraton

Ritual Labuhan Merapi
Sumber :
  • DOK

VIVA Jogja - Tahun Dal 1959/2026 menjadi penanda istimewa bagi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Tingalan Jumenengan Dalem ke-38 Sri Sultan Hamengku Buwono X bukan sekadar peringatan kenaikan tahta, melainkan rangkaian doa dan ritual yang menghubungkan manusia dengan alam serta leluhur. Prosesi berpuncak pada sugengan, lalu berlanjut ke tradisi labuhan di berbagai petilasan sakral.

img_title Pemkot Yogyakarta Dorong Penguatan Potensi Kelurahan untuk Ungkit Ekonomi Lokal

Namun sebelum sugengan dan labuhan, ada satu tradisi yang tak kalah penting: Ngapem. Upacara ini berlangsung sehari sebelum puncak Tingalan Jumenengan Dalem, ketika abdi dalem menyiapkan apem mustaka (apem besar) dan apem alit (apem kecil). Kata apem diyakini berasal dari bahasa Arab afwan yang berarti maaf atau ampun. Dengan demikian, Ngapem menjadi simbol permohonan ampun kepada Sang Pencipta, sekaligus pengingat bahwa kekuasaan harus dijalankan dengan hati yang bersih.

Ngapem bukan hanya tentang membuat kue, melainkan juga tentang makna spiritual. Adonan apem yang diolah dengan penuh ketekunan mencerminkan proses membersihkan diri, sementara bentuk bulat apem melambangkan kesempurnaan doa. Tradisi ini memperlihatkan bagaimana keraton menjaga keseimbangan antara ritual besar dan simbol sederhana yang sarat makna.

img_title Job Fair Kota Yogyakarta 2026: Ribuan Lowongan Kerja dan Komitmen Dunia Usaha Inklusif

Setelah Ngapem, tibalah saat Sugengan pada 18 Januari 2026, yang menjadi inti peringatan kenaikan tahta. Selanjutnya, masyarakat dapat menyaksikan prosesi labuhan yang terbuka di berbagai lokasi. Parangkusumo menjadi saksi pada 19 Januari, ketika jalur dari Keraton menuju pantai dilintasi rombongan abdi dalem. Sehari kemudian, Gunung Merapi menerima persembahan di Petilasan Srimanganti, sementara Gunung Lawu menjadi ruang spiritual yang diakses sejak tengah malam melalui jalur Gondosuli.

Tahun Dal membawa keistimewaan tambahan: Labuhan Ageng di Dlepih, Wonogiri. Petilasan ini pernah menjadi tempat tapa Panembahan Senopati, Sultan Agung, dan Pangeran Mangkubumi. Kehadirannya mengingatkan raja yang bertakhta untuk senantiasa menjaga marwah leluhur.

img_title Pemkot Yogyakarta Dorong UMKM Tembus Pasar Global Lewat INACRAFT Festival 2026

Labuhan, Ngapem, dan Sugengan bukanlah ritual terpisah, melainkan satu rangkaian yang saling melengkapi. Ngapem membersihkan hati, Sugengan meneguhkan syukur, dan Labuhan menghanyutkan doa ke alam semesta. Semua itu berpadu dalam pesan abadi leluhur: hamemayu hayuning bawana, menjaga keseimbangan jagat demi keselamatan bersama.

Halaman Selanjutnya
img_title