5 Desa Raih Apresiasi Desa Budaya 2025
- Istimewa
VIVA Jogja - Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendibud) resmi menganugerahkan Apresiasi Desa Budaya 2025 kepada lima desa yang dinilai berhasil mengelola kebudayaan sebagai sistem hidup yang berdampak nyata secara sosial, ekologis, dan ekonomi.
Program ini merupakan bagian dari inisiatif strategis Pemajuan Kebudayaan Desa, yang menegaskan peran sentral desa sebagai fondasi sekaligus jantung kebudayaan nasional. Apresiasi tersebut sejalan dengan visi pembangunan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam penguatan ketahanan nasional yang berakar pada kemandirian rakyat. Desa budaya menunjukkan bahwa kebudayaan bukan sekadar identitas, melainkan modal strategis pembangunan.
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon dalam keterangannya menekankan posisi desa sebagai benteng peradaban dan ruang inovasi. “Desa-desa budaya adalah jantung dari identitas kebudayaan Indonesia. Di desa-desa inilah tradisi, adat istiadat, seni, dan kearifan lokal hidup dan berkembang. Budaya bukan sekadar simbol, tetapi merupakan kekuatan hidup yang menyatukan, menginspirasi, dan membangun karakter bangsa,” ujarnya.
Dikatakan, di tengah arus modernisasi dan globalisasi, desa budaya berperan sebagai benteng peradaban sekaligus ruang inovasi berbasis nilai-nilai lokal. Menurutnya, penguatan desa budaya hanya dapat tercapai melalui kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan.
Desa budaya yang menerima apresiasi tahun ini mengangkat beragam tema yang mencerminkan nilai kemandirian dan keberlanjutan, mulai dari ketahanan pangan, pelestarian lingkungan, hingga pemanfaatan energi terbarukan berbasis kearifan lokal. Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan & Pembinaan Kebudayaan, Ahmad Mahendra, menjelaskan bahwa program ini telah berjalan sejak 2021 dan menyentuh lebih dari 500 desa. “Desa dapat dipandang sebagai museum hidup, tempat nilai-nilai budaya komunal menjadi dasar kehidupan masyarakat. Mengembangkan dan melestarikan budaya desa sebagai laboratorium hidup semestinya menjadi prioritas dalam pemajuan kebudayaan nasional,” jelasnya.
Proses seleksi Apresiasi Desa Budaya 2025 dilakukan secara komprehensif melalui tahapan temu-kenali, pendalaman, dan aktivasi. Penilaian mencakup komitmen kebijakan desa, keterlibatan aktif seluruh warga termasuk perempuan, anak, dan penyandang disabilitas, serta dampak sosial dan pengembangan ekonomi berbasis budaya. Dari proses tersebut, terpilih lima desa penerima apresiasi: Desa Cibaliung di Kabupaten Pandeglang, Banten; Desa Duarato di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur; Desa Suak Timah di Kabupaten Aceh Barat, Aceh; Desa Tanjung Isuy di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur; dan Desa Tebat Patah di Kabupaten Muaro Jambi, Jambi.