Roti Kembang Waru yang terus bertahan
- Bing Image Creator
VIVA Jogga - Di Kotagede, Yogyakarta, sebuah roti tradisional terus bertahan melawan arus modernitas. Namanya Roti Kembang Waru, roti berbentuk bunga dengan delapan kelopak yang sejak abad ke-16 menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jawa. Bentuknya yang menyerupai bunga waru bukan sekadar estetika, melainkan simbol filosofi kepemimpinan Jawa: delapan kelopak yang melambangkan delapan laku seorang pemimpin, mulai dari kebijaksanaan, kesabaran, keadilan, hingga kasih sayang. Filosofi itu menjadikan roti ini lebih dari sekadar makanan, ia adalah pengingat akan nilai-nilai luhur yang diwariskan turun-temurun.
Proses pembuatan Roti Kembang Waru masih mempertahankan cara tradisional. Adonan dari tepung terigu, gula, telur, santan, dan mentega dicetak menyerupai bunga waru, lalu dipanggang perlahan dalam oven arang. Aroma khas yang muncul dari tungku sederhana itu membuat roti ini berbeda dari roti modern. Teksturnya lembut, rasanya manis dengan sentuhan gurih santan, menghadirkan sensasi klasik yang sulit dilupakan. Membuat roti ini bukan pekerjaan cepat; adonan harus diaduk hingga kalis, cetakan harus dipanaskan dengan suhu yang pas, dan proses memanggang membutuhkan kesabaran agar roti matang merata.
Di sebuah rumah sederhana di gang kecil Kotagede, pasangan pengrajin Pak Bas dan Bu Gidah masih setia menjaga tradisi ini sejak 1983. Oven arang mereka tetap menyala, menghasilkan roti yang otentik dan penuh cerita. “Kami ingin menjaga rasa asli, seperti dulu,” kata Pak Bas sambil menata roti yang baru keluar dari cetakan berbentuk bunga waru. Bagi mereka, membuat Roti Kembang Waru bukan hanya soal bisnis, melainkan menjaga warisan leluhur agar tetap hidup.
Suasana Kotagede sendiri menambah daya tarik. Gang-gang sempit yang dipenuhi rumah-rumah berarsitektur Jawa dan kolonial menjadi latar yang pas untuk roti bersejarah ini. Wisatawan yang datang sering kali berhenti di rumah Pak Bas, membeli beberapa kotak roti untuk dibawa pulang. Rina, seorang pengunjung dari Bandung, mengaku terkesan. “Awalnya saya tertarik karena bentuknya unik. Tapi setelah mencicipi, rasanya lembut sekali, manis tapi tidak berlebihan. Ada aroma tradisional yang membuat saya merasa seperti kembali ke masa lalu. Rasanya bukan sekadar roti, tapi pengalaman budaya,” ujarnya.