Rangkai Masa Depan dengan berdayakan perempuan
- jogja.viva.co.id/Fuska Sani Evani
VIVA Jogja - Pada sebuah tempat di Kabupaten Bantul, , suara anyaman serat alam berpadu dengan canda ringan para ibu rumah tangga. Tangan-tangan terampil itu bukan sekadar merangkai bahan baku menjadi kerajinan, melainkan juga menenun harapan bagi keluarga mereka. Di balik aktivitas tersebut, berdiri PT Indo Risakti, sebuah perusahaan yang tidak hanya berorientasi bisnis, tetapi juga membawa misi sosial yang kuat yakni memberdayakan perempuan.
Didirikan pada 2012 oleh pasangan suami istri Windu Sinaga dan Riris Simanjuntak, PT Indo Risakti lahir dari mimpi sederhana. Keduanya ingin memiliki usaha sendiri sebelum menginjak usia 40 tahun. Namun, mimpi itu berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar dari sekadar bisnis. Mereka melihat potensi besar di lingkungan sekitar, terutama pada ibu-ibu rumah tangga yang memiliki waktu dan kemauan, tetapi sering kali terbatas aksesnya ke pekerjaan formal.
Direktur PT Indo Risakti, Riris Simanjuntak, menuturkan bahwa sejak awal perusahaan ini memang dirancang untuk memberikan ruang bagi perempuan agar tetap produktif tanpa meninggalkan keluarga. “Kami ingin ibu-ibu tetap bisa menjalankan peran di rumah, tapi juga punya penghasilan. Karena itu, sistem kerja kami fleksibel dan berbasis komunitas,” ujarnya.
Dari situlah Indo Risakti tumbuh, dengan fondasi kerajinan berbahan alami seperti daun pisang, enceng gondok, dan berbagai serat alam lainnya. Bahan-bahan yang sebelumnya dianggap biasa, bahkan terabaikan, di tangan para ibu ini berubah menjadi produk bernilai tinggi. Tidak hanya indah secara visual, tetapi juga memiliki cerita tentang ketekunan dan kemandirian.
Seiring waktu, jumlah tenaga kerja yang terlibat terus bertambah. Saat ini, Indo Risakti memberdayakan puluhan hingga ratusan ibu rumah tangga yang tersebar di beberapa wilayah di Bantul. Dalam satu bulan, kapasitas produksi bisa mencapai ribuan unit kerajinan, tergantung pada jenis produk dan permintaan pasar. Produk seperti keranjang anyaman, banana basket, dan dekorasi rumah menjadi yang paling banyak diminati.
Menurut Riris, menjaga kualitas menjadi tantangan sekaligus prioritas utama. “Kami tidak hanya mengejar jumlah produksi, tapi juga memastikan setiap produk memenuhi standar ekspor. Karena itu, pelatihan dan kontrol kualitas terus kami lakukan,” katanya.