ARS LONGA: Generatio, Seni, Air, dan Ingatan Kolektif

Salah satu karya seni tiga dimensi di ArtJog 2026
Sumber :
  • jogja.viva.co.id/Fuska Sani Evani

Farid Stevy menuturkan, “Kami tidak ingin karya kami berhenti di panggung atau galeri. Yang lebih penting adalah bagaimana praktik itu bisa hidup di masyarakat, di sumber air, di pekarangan desa, di ruang-ruang yang sering dianggap sepele.” Ia menambahkan bahwa jarak psikologis dan budaya yang pernah ia rasakan sejak keterlibatan dalam Kacok 2021 justru menjadi pemicu untuk kembali pulang, kembali ke sumber, dan kembali ke masyarakat. “Pulang itu tidak mudah, karena ada jarak yang tidak bisa dijawab dengan kata-kata. Tapi melalui praktik kecil, melalui bersih sumber, melalui penanaman, kami mencoba menjawabnya,” ujarnya.

img_title Water Canon Dikerahkan Polres dan PWI Jepara, Ratusan Galon Warga Berebut Isi Air Bersih

Selama dua setengah bulan ke depan, Paseduluran Nandur Banyu bersama masyarakat akan melanjutkan tradisi bersih sumber. Ketika musim hujan tiba, mereka menanam; ketika musim berganti, mereka membersihkan dan merawat mata air. Aktivitas ini bukan hanya ritual ekologis, tetapi juga ajakan untuk kembali pulang ke sumber, menghidupkan kembali air, dan menjadikannya bagian dari narasi bersama. Farid Stevy menegaskan, “Yang paling penting adalah bagaimana kita bersama-sama menjaga sumber, menghidupkan kembali air, dan menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari. Seni bagi kami adalah praktik yang terus berulang, bukan sekadar acara besar atau sorotan sesaat.”

Ia juga menekankan bahwa karya yang mereka lakukan adalah “karya sering”—praktik yang dilakukan setiap saat, di luar panggilan media, di luar sorotan publik. “Kami tidak menunggu panggilan, tidak menunggu sorotan. Setiap hari, setiap momen, ada karya yang kami lakukan. Itu yang membuat seni hidup, bukan hanya di ruang pamer, tetapi di ruang-ruang kecil yang sering dilupakan,” kata Farid. Baginya, seni adalah cara untuk merawat ingatan kolektif, mengikat masyarakat dengan sumber air, dan menumbuhkan kesadaran ekologis.

img_title Dorong Audit Lingkungan Nasional, Jumhur Hidayat: Pemulihan Lingkungan Bisa Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi

Kehadiran mereka seolah menjadi gema dari tema ARS LONGA: Generatio. Jika Roby Dwi Antono berbicara tentang luka antargenerasi, maka Paseduluran Nandur Banyu berbicara tentang ingatan ekologis yang diwariskan dari satu musim ke musim berikutnya. Jika Hiromi Tango mengikat generasi melalui tali suci, maka Farid Stevy mengikat masyarakat melalui air dan tanah. Keduanya sama-sama menegaskan bahwa seni adalah praktik keberlanjutan, bukan sekadar peristiwa sesaat. “Kami ingin masyarakat kembali mengunjungi sumber air, bersama-sama merawatnya, dan menjadikannya bagian dari kehidupan. Itu adalah seni yang paling penting,” tutup Farid.

Halaman Selanjutnya
img_title