ARS LONGA: Generatio, Seni, Air, dan Ingatan Kolektif

Salah satu karya seni tiga dimensi di ArtJog 2026
Sumber :
  • jogja.viva.co.id/Fuska Sani Evani

Performa ARTJOG yang didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation, IFI Yogyakarta, hingga Project Eleven Australia, menghadirkan musik elektro-pop Violet Indigo, jazz eksperimental Watchdog, hingga kolaborasi lintas negara oleh Monica Lim, Patrick Hartono, dan Serenata Choir ISI Yogyakarta. Artistique Théâtre dari Prancis membawa Daughters of the Sea, sementara Densiel Lebang menyoroti ritual Toraja melalui Ma Bua’. Semua ini memperlihatkan bahwa seni pertunjukan di ARTJOG bukan hanya hiburan, melainkan refleksi sosial yang mendalam.

img_title Pelaku Tambang Ilegal di Pancur Terancam Pidana, ESDM Soroti Ancaman Rusaknya Cadangan Air

Dalam lanskap yang lebih luas, ARTJOG dan Paseduluran Nandur Banyu sama-sama menegaskan bahwa seni adalah ruang perjumpaan. Di satu sisi, ARTJOG menghadirkan dialog antargenerasi melalui karya instalasi, performans, dan riset artistik. Di sisi lain, Paseduluran Nandur Banyu menghadirkan praktik ekologis yang mengikat masyarakat dengan sumber air. Keduanya bertemu dalam gagasan bahwa seni adalah cara untuk merawat kehidupan, menyulam ingatan, dan menumbuhkan harapan.

Dengan tema ARS LONGA: Generatio, ARTJOG 2026 membuka trilogi panjang yang akan berlangsung hingga 2028. Namun, lebih dari itu, ia membuka kesadaran bahwa seni bukan hanya milik galeri atau panggung besar, melainkan juga milik desa, sumber air, dan kehidupan sehari-hari. Seni adalah generasi yang terus lahir kembali, dari luka menjadi harapan, dari air menjadi kehidupan. Dan di Yogyakarta, kota yang selalu menjadi episentrum seni kontemporer, narasi ini menemukan rumahnya.

img_title ArtJog 2026: Lintas Generasi, Ars Longa, dan Ruang Kreatif Seniman

Sirin Farid Stevy, merangkai ARTJOG 2026 dengan praktik Paseduluran Nandur Banyu, menghadirkan seni sebagai ruang yang indah, penuh makna, dan berakar pada kehidupan.