Wakil Bupati Karanganyar Tanggapi Fenomena Bendera One Piece Jelang HUT RI: Santai Saja

Wakil Bupati Karanganyar Adhe Eliana
Sumber :
  • VIVA Jogja

KARANGANYAR, VIVA Jogja - Wakil Bupati Karanganyar, Adhe Eliana, menegaskan posisi Pemerintah Kabupaten Karanganyar dalam menyikapi maraknya pengibaran bendera nonresmi menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia.

img_title PHK di Karanganyar Meningkat, 323 Pekerja Terima JKP Rp489 Juta

Dalam keterangan resminya, ia menyebut bahwa pengibaran bendera Merah Putih adalah bentuk penghormatan terhadap konstitusi dan sejarah perjuangan bangsa.

Pernyataan ini disampaikan menyusul tren sejumlah warga, terutama generasi muda, yang memasang bendera bergambar karakter fiksi dari anime Jepang, seperti Jolly Roger dari serial One Piece, di pekarangan rumah mereka.

img_title BKD Karanganyar Luncurkan SANDALE PAKDE, Wajib Pajak Kini Bisa Pantau Keberatan dan Banding

“Pengibaran bendera Merah Putih adalah simbol kebanggaan nasional. Ini bukan hanya urusan estetika, tapi soal identitas dan komitmen kebangsaan,” ujar Adhe Eliana, saat ditemui VIVA Jogja, Selasa (5/8/2025).

Menurutnya, Pemkab Karanganyar telah menerbitkan surat edaran resmi sebagai langkah preventif untuk memastikan simbol negara tidak tergeser oleh pengaruh budaya luar, terutama dalam momentum kenegaraan seperti bulan kemerdekaan.

img_title Terjawab, Eks Kiper Timnas U23 Nuri Agus Akhirnya Resmi Gabung Persika Karanganyar di Liga 3

Adhe menekankan bahwa pemerintah daerah tidak mengatur secara represif, tetapi mengedepankan pendekatan persuasif.

"Kami tidak melarang kreativitas warga. Tapi kita harus tahu kapan waktu untuk mengekspresikan diri, dan kapan harus berdiri tegak di bawah Merah Putih,” katanya.

Di tengah dinamika politik budaya yang terus berkembang, Pemkab menilai penting untuk menjaga ruang publik tetap berpihak pada nilai-nilai nasionalisme.

Fenomena bendera anime, bagi Adhe, adalah potret dari tantangan ideologis yang muncul dalam format baru.

“Kalau dibiarkan tanpa edukasi, kita bisa kehilangan arah. Bukan berarti anti-budaya pop, tapi harus proporsional. Agustus adalah milik bangsa Indonesia,” jelasnya.

Wabup juga mengingatkan seluruh elemen masyarakat untuk tidak membiarkan perbedaan tafsir soal simbol dan ekspresi publik menjadi bahan polarisasi sosial. Ia menegaskan, Karanganyar harus tetap menjadi wilayah yang sejuk dan stabil secara politik.

“Karanganyar ini sudah adem. Jangan kita rusak hanya karena perdebatan simbol. Nasionalisme kita harus tetap satu garis lurus,” tegas Adhe.

Sebagai catatan, fenomena penggunaan bendera anime sebagai simbol ekspresi tengah menjadi diskursus di sejumlah daerah. Di sisi lain, para pengamat menilai, tren ini mencerminkan dinamika baru antara identitas nasional dan budaya global di tengah perubahan generasi.