PT Samwon Jepara Tutup Setelah 11 Tahun Beroperasi, 680 Karyawan Terkena PHK

Taufan Pejabat HR PT Samwon Busana Indonesia (foto: dok.Vivajogja)
Sumber :
  • VIVAJogja

VIVAJogjaJEPARA, PT Samwon Busana Indonesia Jepara dipastikan menghentikan seluruh kegiatan mulai 1 Agustus 2026 setelah lebih dari satu dekade beroperasi di Kabupaten Jepara. Penutupan pabrik garmen yang berlokasi di Desa Damarjati, Kecamatan Kalinyamatan itu berdampak pada sekitar 680 karyawan yang harus mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK).

img_title Dari Eks JI ke Agen Perubahan, BNPT-Densus 88 Garap Transformasi Ponpes Al Muttaqin

Pejabat Human Resources (HR) PT Samwon Busana Indonesia Jepara, Taufan Adi Susilo, mengatakan hari terakhir karyawan bekerja adalah 31 Juli 2026, sedangkan perusahaan resmi berhenti beroperasi sehari setelahnya.

"Hari terakhir karyawan bekerja nanti ditanggal 31 Juli. Mulai 1 Agustus kami resmi tutup," kata Taufan kepada VIVAJogja, Selasa (21/7)

img_title Ratusan Motor Jadul Jajal Jalan Mulus Jepara, Bupati Ikut Bernostalgia ke Era 70 an

Taufan menjelaskan PT Samwon berdiri di Jepara pada 2015 sebagai salah satu pabrik garmen pertama di daerah tersebut. Saat awal investasi, perusahaan menargetkan mampu menyerap hingga 4.000 tenaga kerja, namun jumlah karyawan terbanyak yang pernah bekerja hanya sekitar 2.400 orang, dengan sekitar 80 persen merupakan warga Jepara.

PT Samwon memproduksi hanya kemeja untuk pasar ekspor, terutama ke Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang. Induk perusahaan asal Korea Selatan memilih berekspansi ke Jepara karena saat itu iklim investasi dinilai menjanjikan, tenaga kerja melimpah, dan upah masih kompetitif.

img_title Tukang Mebel Makin Sulit Dicari, Jepara Mulai Moving to CNC Technology

Namun, kondisi usaha mulai memburuk setelah pandemi Covid-19. Taufan mengungkapkan permintaan dari buyer terus menurun, bahkan ada pelanggan yang menghentikan kerja sama sejak 2024. Penurunan order diperkirakan mencapai sekitar 30 persen, membuat perusahaan terus merugi.

"Pasca Covid dulu kami mengalami penurunan omset  terus-menerus. Kami sudah mencoba berbagai upaya, mulai membagi order dengan pabrik di Semarang, melobi buyer dari berbagai negara hingga mencoba membuat produk selain kemeja. Tetapi kami tidak bisa memaksa buyer memberikan order," ujarnya.

Minimnya pesanan, perusahaan akhirnya melakukan efisiensi secara bertahap hingga jumlah karyawan tersisa hanya 680 orang. Kondisi tersebut akhirnya membuat manajemen memutuskan menutup seluruh kegiatan operasional di Jepara.

Taufan memastikan seluruh hak dan kewajiban pekerja tetap akan dipenuhi sesuai ketentuan. Karyawan akan menerima pembayaran cuti tahunan yang belum diambil, uang penghargaan masa kerja, serta pesangon. Namun, karena perusahaan mengalami kerugian, pembayaran pesangon dilakukan sebesar 50 persen sesuai ketentuan yang berlaku.

Halaman Selanjutnya
img_title