Junior Wanderer: Prambanan Hadirkan Wisata Edukatif untuk Generasi Muda
- jogja.viva.co.id/ Fuska Sani Evani
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Candi Prambanan, kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia sekaligus warisan budaya dunia yang diakui UNESCO, terus berupaya menghadirkan pengalaman baru bagi para pengunjungnya. Tidak hanya sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya, Prambanan kini juga menjadi ruang belajar interaktif bagi generasi muda. Inovasi ini diwujudkan melalui program “Junior Wanderer” yang telah diluncurkan.
Direktur Komersial InJourney Destination Management (IDM) Gistang Panutur, menyampaikan, sasaran utama para pelajar yang selama ini menyumbang sekitar 20–25 persen dari total kunjungan ke Prambanan.
Gistang menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk mengubah pola kunjungan pelajar yang biasanya hanya mendengarkan penjelasan pemandu dan mencatat informasi. Dengan konsep baru, anak-anak diajak untuk benar-benar terlibat dalam aktivitas edukatif yang menyenangkan sekaligus bermakna. “Kami ingin mereka merasakan pengalaman belajar secara langsung, bukan sekadar mendengar cerita lalu mencatat,” ujarnya, di Kawasan Candi Prambanan, Rabu (22/07/2026).
Program Junior Wanderer terdiri dari tiga jenis kegiatan utama yang disebut sebagai “lab”. Pertama adalah Archaeological Lab, di mana peserta diperkenalkan pada proses arkeologi sederhana. Mereka belajar bagaimana menyusun batu, membersihkan struktur, dan memahami teknik dasar pelestarian candi. Aktivitas ini memberi gambaran nyata tentang bagaimana para arkeolog bekerja menjaga kelestarian warisan dunia.
Kedua adalah Heritage and Cultural Lab. Di sini, pelajar diajak mengenal dan mencoba langsung kekayaan budaya Nusantara. Mereka dapat memainkan gamelan, membatik, hingga menari tradisional. Melalui kegiatan ini, anak-anak tidak hanya mengenal budaya, tetapi juga diajak untuk mencintai dan melestarikannya.
Ketiga adalah Professional Lab, yang memberikan kesempatan bagi peserta untuk berperan sebagai pemandu wisata atau petugas hospitality. Mereka belajar bagaimana melayani pengunjung, menyampaikan narasi sejarah, dan memahami etika dalam dunia pariwisata. Dengan cara ini, anak-anak bisa mulai mengenali minat mereka, apakah di bidang arkeologi, seni budaya, atau pelayanan wisata.
Program ini telah resmi diluncurkan pada masa liburan sekolah lalu dan akan ditawarkan lebih luas kepada sekolah-sekolah. IDM berharap, sekolah dapat menjadikan kegiatan ini sebagai bagian dari misi pendidikan, bukan hanya akademis, tetapi juga pembentukan karakter dan wawasan masa depan.