Pranoto Mongso: Membaca Musim Jawa dan Refleksi Iklim Modern

Pranoto Mongso atau sistem penanda waktu dalam pertanian Jawa
Sumber :
  • jogja.viva.co.id/ Fuska Sani Evani

Lebih jauh, Tosan menyoroti bahwa pranoto mongso tidak hanya berfungsi praktis, tetapi juga memiliki dimensi spiritual. Dalam lingkaran paling luar, pranoto mongso mempengaruhi sifat-sifat manusia yang muncul di setiap musim. Ada istilah sedeng melasan, carobo kumet, hingga persihan, yang menggambarkan karakter manusia sesuai dengan siklus alam. “Ini menunjukkan bahwa pranoto mongso bukan sekadar kalender musim, tetapi juga sistem kosmologi yang menghubungkan manusia dengan alam semesta,” tambahnya.

img_title Gubernur DIY tekankan Kearifan Lokal Jawa Sebagai Sistem Peringatan Dini Bencana

Sayangnya, menurut Tosan, pranoto mongso belum banyak diadaptasi ke dalam platform digital modern. “Saya mencari di digital platform, ternyata tidak ada aplikasi yang memuat pranoto mongso. Padahal kalau teman-teman dari teknologi informasi bisa mengembangkan, ini akan sangat membantu untuk memahami iklim dari perspektif etnik,” ujarnya. Ia menilai bahwa digitalisasi pranoto mongso dapat menjadi cara untuk melestarikan kearifan lokal sekaligus menjawab tantangan iklim modern.

Dalam refleksinya, Tosan mengajukan pertanyaan kritis kepada para seniman, desainer, dan akademisi yang hadir. Ia mempertanyakan apakah karya seni dan desain hanya sekadar ekspresi, atau juga bisa menjadi advokasi untuk keseimbangan alam. “Seniman mungkin lebih bebas berekspresi, sementara desainer harus berorientasi pada pengguna. Tetapi apakah keduanya bisa sama-sama memiliki kesadaran kepedulian terhadap iklim dalam merancang atau berekspresi?” tanyanya.

img_title Kearifan Lokal Jawa Sebagai Sistem Peringatan Dini Bencana

Ia menekankan bahwa seniman dan desainer tidak cukup hanya melakukan kampanye atau memberikan kesadaran, tetapi juga perlu menciptakan sistem baru yang lebih baik. “Preserve local wisdom di tengah tantangan modern adalah hal penting. Kita bisa membuat sesuatu yang baru, sistem yang lebih baik, yang lahir dari refleksi budaya,” ujarnya.

Paparan Tosan menegaskan bahwa pranoto mongso bukan sekadar warisan budaya, melainkan pengetahuan ekologis yang relevan untuk masa kini. Di tengah krisis iklim global, kearifan lokal Jawa ini dapat menjadi sumber inspirasi untuk membangun narasi baru tentang hubungan manusia dengan alam. Dengan menghubungkan tradisi, sains, dan seni, simposium ini memperlihatkan bahwa solusi iklim tidak hanya datang dari teknologi modern, tetapi juga dari kebijaksanaan leluhur yang telah lama hidup berdampingan dengan alam.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title Pagi yang Menyembuhkan di Kaki Gunung Sumbing: Pesona Desa Blumbangroto