Prof Djoko Suryo, Sejarawan Humanis UGM Berpulang
- Dok Humas UGM
SLEMAN, VIVA Jogja - Universitas Gadjah Mada kehilangan salah satu sosok sejarawan terbaiknya. Prof Dr H Djoko Suryo, akademisi yang dikenal luas sebagai sejarawan humanis, berpulang pada Senin pagi pukul 04.40 WIB di Rumah Sakit Akademik UGM, Yogyakarta, pada usia 86 tahun. Jenazah almarhum disemayamkan terlebih dahulu dalam upacara persemayaman di halaman Balairung Gedung Pusat UGM sebelum dimakamkan di Pemakaman Keluarga Besar UGM, Sawitsari.
Dekan Fakultas Ilmu Budaya UGM, Prof Dr Setiadi menyampaikan rasa kehilangan mendalam atas kepergian almarhum. Ia menegaskan bahwa Prof. Djoko bukan hanya mantan pimpinan fakultas, melainkan teladan hidup bagi sivitas akademika. “Beliau adalah pilar mentor dan keteladanan hidup bagi Fakultas Ilmu Budaya. Dedikasi beliau membangun pondasi keilmuan, menjaga nilai-nilai humaniora, dan ke-UGM-an akan selalu dikenang,” ujarnya.
Karier akademik Prof. Djoko dimulai sejak 1965 sebagai asisten dosen Fakultas Sastra UGM. Ia kemudian mengabdi di berbagai universitas, termasuk UIN Sunan Kalijaga, Universitas Jember, dan Pascasarjana UGM. Selain itu, ia pernah menjadi konsultan penelitian dan pengurusan buku di Dirjen Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada periode 1985–1990.
Pengabdian panjangnya di dunia pendidikan dan kebudayaan membuat almarhum menerima berbagai penghargaan. Pada 2023, ia dianugerahi penghargaan kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta kategori pelestari atau pelaku kebudayaan. Ia juga memperoleh gelar kehormatan dari Keraton Yogyakarta sebagai Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Suryohadibroto, serta penghargaan Tokoh Sewindu Undang-Undang Keistimewaan DIY pada 2020. Di tingkat internasional, Prof. Djoko pernah mengikuti program pasca doktoral di Cornell University, Amerika Serikat, pada 1989, menjadi dosen tamu di Thailand, serta Research Fellow di Korea Selatan.
Rektor UGM, Prof dr Ova Emilia mengenang almarhum sebagai sejarawan yang senantiasa merawat sejarah dan kebudayaan Indonesia dengan kedalaman empati dan kesadaran etik. “Beliau mampu memotret peradaban secara kritis dalam kebijaksanaan tradisi intelektualnya. Setiap kejadian bagi beliau meninggalkan refleksi makna bagi peradaban masa depan,” ucapnya.
Ova menambahkan bahwa karya-karya Prof. Djoko akan terus hidup dalam ingatan kolektif bangsa. Ia mengingat pidato pengukuhan guru besar almarhum pada 1998 berjudul Masyarakat Indonesia dalam Dinamika Sejarah, Kesinambungan dan Perubahan. Menurutnya, karya tersebut menjadi salah satu warisan intelektual yang akan terus relevan. “Sebaran amalan ilmu dan karya beliau, Insya Allah menjadi ladang ibadah dan pembuka jalan pengembangan ilmu pengetahuan masa depan,” ungkapnya.