Bekatul Jadi Bahan Plester, Mahasiswa UGM Bidik Terapi Dislipidemia

Tim PKM-RE BRANOVATE Universitas Gajah Mada
Sumber :
  • Viva Jogja

YOGYAKARTA, VIVA Jogja – Bekatul yang selama ini lebih dikenal sebagai hasil samping penggilingan padi mulai dilirik mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai bahan pengembangan kandidat terapi gangguan metabolik.

img_title Mahasiswa UGM Kembangkan Mushfoam, Kemasan Ramah Lingkungan Pengganti Styrofoam

Melalui Tim PKM-RE BRANOVATE, mahasiswa UGM mengembangkan plester transdermal berbasis nanoemulsi ekstrak bekatul beras putih sebagai kandidat terapi dislipidemia pada sindrom metabolik. Inovasi ini memadukan pemanfaatan senyawa bioaktif bekatul dengan teknologi penghantaran obat melalui kulit. 

Ketua Tim BRANOVATE, Fauzia Amrina Rosyada, mengatakan pengembangan tersebut berangkat dari persoalan dislipidemia yang menjadi salah satu komponen sindrom metabolik.

img_title Prof Djoko Suryo, Sejarawan Humanis UGM Berpulang

“Sindrom metabolik menjadi perhatian karena tidak hanya melibatkan gangguan gula darah, tetapi juga gangguan profil lipid atau dislipidemia yang dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular,” kata Fauzia dalam rilis yang dikirim tim Branovate. 

Bekatul Bukan Sekadar Limbah

img_title Inovasi Mahasiswa UGM, Obat Tuberkulosis Dihantarkan Langsung ke Paru Lewat Inhalasi

Dislipidemia merupakan kondisi gangguan profil lipid yang dapat ditandai antara lain dengan peningkatan kolesterol total, trigliserida, dan LDL. Kondisi tersebut berkaitan dengan pembentukan plak aterosklerosis dan dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. 

Selama ini, statin menjadi salah satu terapi utama untuk membantu menurunkan kadar lipid. Namun, menurut latar belakang penelitian BRANOVATE, terapi jangka panjang masih memiliki tantangan, termasuk persoalan efek samping dan kebutuhan terhadap alternatif sistem penghantaran. 

Dari persoalan tersebut, tim kemudian melihat peluang pada bekatul beras putih atau Oryza sativa L. yang merupakan hasil samping proses penggilingan padi. Bahan tersebut mengandung sejumlah komponen bioaktif, salah satunya γ-oryzanol, yang berdasarkan penelitian sebelumnya memiliki potensi membantu memperbaiki profil lipid. 

Namun, menjadikan bekatul sebagai kandidat bahan terapi bukan perkara sederhana. Tantangannya antara lain berkaitan dengan penghantaran dan bioavailabilitas, sehingga BRANOVATE mengembangkan ekstrak bekatul terlebih dahulu dalam sistem nanoemulsi sebelum diformulasikan menjadi plester transdermal.

Dibuat dalam Bentuk Plester

Dalam rancangan penelitian tersebut, nanoemulsi digunakan untuk membentuk sistem penghantaran dengan ukuran droplet berskala nano serta karakteristik fisik yang dapat dioptimalkan. Tim menggunakan miglyol sebagai fase minyak, Tween 80 sebagai surfaktan, propilen glikol sebagai kosurfaktan, dan isopropil alkohol sebagai penetration enhancer. 

Halaman Selanjutnya
img_title