Masyarakat Singkong Dorong DIY Jadi Sentra Budidaya
- Dok Humas Pemda DIY
YOGYAKARTA, VIVA Jogja – Dorongan untuk menjadikan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sebagai salah satu pusat budidaya singkong skala besar kembali mengemuka. Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) menemui Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan, Kamis (10/09/2026), guna menyampaikan harapan agar DIY turut serta dalam program pengembangan singkong yang diarahkan untuk mendukung produksi bioetanol nasional.
Ketua Umum DPN MSI, Arifin Lambaga, menjelaskan bahwa pihaknya tengah berupaya mendukung pemerintah dalam meningkatkan produksi bioetanol sebagai bahan campuran Bahan Bakar Minyak (BBM). Menurutnya, target pemerintah untuk mencapai campuran E20 pada 2028 membutuhkan pasokan bioetanol yang jauh lebih besar dibandingkan kondisi saat ini. “Kami menghadap Sri Sultan sebetulnya ingin menyampaikan keinginan dan kebutuhan kami akan perluasan budidaya singkong. Hal ini berkaitan dengan kebutuhan energi bioetanol yang harapannya dapat mencapai E20 untuk campuran BBM jenis gasoline, di mana saat ini kita baru mencapai E5,” paparnya.
Arifin menambahkan, untuk mencapai target E20, negara membutuhkan sekitar tiga juta kiloliter bioetanol per tahun. Meski bahan baku bioetanol bisa diperoleh dari tebu dan jagung, singkong tetap menjadi salah satu komoditas strategis yang perlu diperluas budidayanya. “Kalau bisa ada ketersediaan lahan di DIY, mari kita kembangkan budidaya singkong untuk menyuplai produksi bioetanol di Indonesia. Apalagi pemerintah telah menetapkan target E10 di 2027 dan E20 di tahun 2028,” imbuhnya.
Menurut Arifin, DIY memiliki potensi besar karena budidaya singkong sudah berlangsung cukup lama meski belum dalam skala industri. Letak geografis DIY yang berada di tengah Pulau Jawa juga dinilai strategis untuk distribusi bahan baku maupun hasil produksi bioetanol ke berbagai wilayah. Ia optimistis dukungan dari Sri Sultan akan memperkuat langkah MSI dalam mendorong transformasi pola pikir petani. “Ngarsa Dalem tadi berpesan agar kami juga bisa ikut membantu melakukan transformasi pola pikir masyarakat, dari pola pikir petani agraris menjadi pola pikir petani yang mampu menyediakan bahan baku industri,” katanya.
Selain fokus pada bioetanol, MSI juga tengah mengembangkan pemanfaatan lain dari tanaman singkong. Arifin mengungkapkan bahwa bonggol singkong memiliki kandungan karbon tinggi yang dapat diolah menjadi biochar untuk menyuburkan tanah. Inovasi ini diyakini mampu memberikan nilai tambah bagi petani sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan. “Kemampuan bonggol singkong menyimpan zat karbon bisa dimanfaatkan untuk memperbaiki kualitas tanah,” jelasnya.