Pemkot Yogya Perluas Sistem Peringatan Dini Banjir Lewat Jaringan Seluler
- Dok Pemkot Yogya
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) berencana memperluas cakupan informasi peringatan dini banjir dengan memanfaatkan jaringan seluler. Langkah ini diambil untuk melengkapi sistem peringatan dini yang selama ini mengandalkan sirine early warning system (EWS) dan komunikasi radio handy talky (HT). Dengan perluasan tersebut, diharapkan penyebaran informasi dapat lebih cepat, luas, dan efektif sehingga mampu memperkuat upaya penyelamatan serta mengurangi risiko bencana.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Yogyakarta, Nur Hidayat, menjelaskan bahwa saat ini terdapat 36 unit EWS banjir yang terpasang di sejumlah sungai besar, seperti Gajah Wong, Code, Belik, Winongo, dan Buntung, serta di Ngentak Sleman yang merupakan hulu Sungai Code. EWS berfungsi memberikan peringatan dini melalui bunyi sirine dan informasi dari BPBD mengenai langkah yang harus dilakukan masyarakat di bantaran sungai. “Tahun ini kami tidak menambah EWS, tetapi mengoptimalkan yang ada. Cakupan informasi peringatan dini akan diperluas, tidak hanya lewat komunikasi radio, tetapi juga lewat jaringan seluler,” kata Nur saat simulasi EWS di bantaran Sungai Gajah Wong.
Menurutnya, selama ini informasi dari telemetri alat pengukur ketinggian air sungai diterima oleh Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD terlebih dahulu sebelum disebarkan ke masyarakat melalui Kampung Tangguh Bencana (KTB). Ke depan, informasi tersebut diharapkan bisa langsung diterima masyarakat melalui grup komunikasi berbasis aplikasi seluler. “Informasi debit air dari hulu bisa langsung disampaikan ke masyarakat lewat radio dan jaringan seluler. Jadi nanti dibuat grup komunikasi seperti WhatsApp. Bila masyarakat tahu lebih cepat, tentu lebih baik,” jelasnya.
Nur menegaskan bahwa teknologi akan ditingkatkan untuk memperluas jangkauan informasi peringatan dini. Ia menekankan pentingnya sosialisasi agar masyarakat memahami cara kerja EWS dan langkah penyelamatan yang harus dilakukan. Saat ini, Yogyakarta telah memiliki 169 KTB yang tersebar di seluruh kampung. Pelatihan kesiapsiagaan dan simulasi bencana rutin digelar untuk memperkuat kapasitas masyarakat. “Yang bisa menyelamatkan diri adalah kita sendiri. Ketika peringatan dini sudah bisa menyampaikan informasi cepat dan masyarakat memahami langkah penyelamatan, Insya Allah kita akan selamat,” tambahnya.