Jembatan Pandansimo siap dioperasikan Agustus 2025
- youtube @Agus Bintarto
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Setelah melalui proses pembangunan yang intensif dan melewati berbagai tahapan teknis, Jembatan Pandansimo yang terletak di wilayah pesisir Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, siap dioperasikan pada bulan Agustus 2025, menunggu hasil audit keselamatan dari Direktorat Jembatan Kementerian PUPR.
“Jika hasil audit keluar dan rekomendasinya ditindaklanjuti, maka jembatan bisa dioperasikan” terang Setiawan Wibowo selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 1.4 Satker PJN DIY beberapa waktu lalu.
Dikatakan, pembangunan fisik jembatan sudah rampung 100 persen dan soal peresmian masih dalam tahap konsultasi antara Gubernur DIY dan Direktorat Jenderal Bina Marga.
Jembatan dengan panjang mencapai 120 meter dengan lebar 7 meter ini menghubungkan kawasan Pantai Pandansimo dengan wilayah permukiman dan jalur ekonomi di sebelah utara. Dilengkapi dengan jalur pedestrian dan penerangan ramah lingkungan, dengan struktur baja dan beton dirancang tahan terhadap erosi dan terpaan angin laut.
Diinisiasi sebagai bagian dari upaya memperkuat konektivitas pariwisata dan sektor pertanian pesisir selatan.
Pembangunan jembatan ini dimulai awal 2024 dengan anggaran Rp 17 miliar yang bersumber dari APBD Kabupaten Bantul dan dukungan dari pemerintah pusat. Jembatan ini dirancang tidak sekadar sebagai sarana transportasi, melainkan sebagai penggerak ekonomi lokal, menghubungkan jalur distribusi hasil pertanian dan perikanan, mempermudah akses wisatawan menuju Pantai Pandansimo dan destinasi sekitarnya
Setiawan Wibowo mengatakan, semula proyek ini ditargetkan selesai pada Desember 2024, namun mengalami perpanjangan hingga akhir l 2025. Total panjang penanganan yang di kontrak awal hanya 1.900 meter bertambah menjadi 2.300 meter. Penambahan ini untuk mengakomodasi kebutuhan lajur transisi untuk meningkatkan keselamatan jalan.
Selama proses pembangunannya, kondisi geografis menjadi tantangan tersendiri. Lokasinya berada di tanah berpasir dengan muka air tanah dangkal, dekat dengan sesar gempa Opak. Untuk mengatasi risiko gempa dan likuifaksi, digunakan teknologi Lead Rubber Bearing (LRB) dan mortar busa. Selain itu, tambahan 200 fondasi ditanam untuk memperkuat struktur terhadap potensi bencana.