Bendera Bajak Laut One Piece: Sindiran Pop terhadap Kekuasaan dan Seruan Nasionalisme

Dr Ade Marup Wirasenjaya
Sumber :
  • Humas UMY

YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, publik dikejutkan oleh maraknya pengibaran bendera bajak laut dari serial One Piece di berbagai sudut negeri dari pagar rumah hingga bak truk. Fenomena ini bukan sekadar gaya atau tren budaya pop. Di balik kain hitam berlogo tengkorak itu, tersimpan pesan yang menggugah: kritik sosial dan teguran terhadap arah penyelenggaraan negara.

img_title Inovasi Anak Panti Muhammadiyah, Madu Surya Asy-Sifa Jadi Bukti Kemandirian di Tengah Kota

Dr Ade Marup Wirasenjaya, Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), menilai bahwa penyandingan bendera Merah Putih dengan bendera One Piece bukanlah bentuk pelecehan simbol negara, melainkan ekspresi sosial yang sarat makna. Menurutnya, selama bendera bajak laut tidak dikibarkan lebih tinggi dari Merah Putih, maka ia tidak mengancam kedaulatan.

“Ini bukan ancaman, tapi teguran. Bendera bajak laut itu menjadi simbol ketimpangan dan dominasi kekuasaan yang dirasakan masyarakat,” ujar Ade.

img_title Majelisdiktilibang PP Muhammadiyah Tantang UMUKA Pasang Target Besar: Kalau Tak Ada Target Angka, Kita Tidur

Ruang Kritik yang Menyempit

Ade menyoroti bahwa masyarakat kini kehabisan ruang untuk menyuarakan kritik secara terbuka. Maka, momen peringatan kemerdekaan dijadikan panggung simbolik untuk menyampaikan keresahan. Dalam konteks ini, istilah “bajak laut” menjadi metafora tajam: kemerdekaan yang dulu diperjuangkan jangan sampai “dibajak” oleh segelintir elit. “Pesan simboliknya jelas: jangan biarkan kemerdekaan hanya dinikmati oleh kelompok kekuasaan,” tegasnya.

img_title Haedar Nashir: Pendidikan Holistik Muhammadiyah Sapen Universal School Jadi Tonggak Transformasi Nasional

Lebih dari Sekadar Upacara

Kritik yang tersirat dalam pengibaran bendera One Piece bukan untuk menolak nasionalisme, melainkan untuk mengingatkan bahwa semangat kemerdekaan harus hidup dalam kebijakan dan perilaku para pemimpin. Nasionalisme bukan hanya soal seremoni 17 Agustus, tetapi tentang keberpihakan pada rakyat dan keadilan sosial.

Ade menyarankan agar pemerintah tidak hanya fokus pada simbol, tetapi juga menangkap pesan substantif di baliknya. Regulasi tentang penggunaan simbol negara memang sudah ada, namun pendekatan yang lebih edukatif dan reflektif perlu dikedepankan.

“Pemerintah harus aktif mensosialisasikan aturan, tapi juga membuka ruang untuk ekspresi budaya pop yang memuat kritik sosial,” jelasnya.

Fenomena ini, menurut Ade, seharusnya menjadi cermin bagi para penyelenggara negara. Di balik bendera bajak laut, tersimpan rasa cinta dan kepedulian masyarakat terhadap tanah air. Maka, respons pemerintah sebaiknya tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga reflektif.

Halaman Selanjutnya
img_title