Menjaga Arah Riset Nasional: Biodiversitas, Hilirisasi, dan Ketahanan Pangan

Dr Laksana Tri Handoko
Sumber :
  • jogja.viva.co.id/Fuska Sani Evani

YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr Laksana Tri Handoko, menegaskan bahwa tidak ada penelitian yang tertunda akibat efisiensi anggaran. Menurutnya, efisiensi yang dilakukan BRIN hanya menyasar biaya operasional dan manajemen, bukan anggaran riset. “Kemarin pun tidak ada penelitian yang tertunda. Kami efisienkan biaya operasional, bukan risetnya,” ujarnya usai Workshop Pengelolaan Biodiversitas dan Penguatan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) untuk Masa Depan Berkelanjutan di Universitas Gadjah Mada (UGM), pada Rabu (1/10/2025).

img_title Menyalakan Energi Masa Depan dari Limbah yang Terbuang

Salah satu fokus utama BRIN sejak awal adalah biodiversitas. Tidak hanya dari sisi eksplorasi, konservasi, dan identifikasi, tetapi juga pemanfaatannya. “Kami kini banyak fokus pada pemanfaatan biodiversitas, khususnya untuk pangan dan kesehatan. Ini bagian dari program hilirisasi yang menjadi prioritas Presiden,” jelas Handoko.

Ia menekankan pentingnya menciptakan nilai ekonomi dari kekayaan biodiversitas Indonesia. Hilirisasi, menurutnya, terbagi dua: dari sumber daya tak terbarukan seperti tambang, dan dari sumber daya terbarukan seperti komoditas pertanian dan biodiversitas.

img_title UGM Gandeng BRIN dan BKSDA Tingkatkan Kemampuan Petani Gunungkidul Hadapi Hama dan Gangguan Satwa Liar

Dalam mendukung program MBG (Modernisasi Bahan Guna), BRIN tengah mengembangkan test kit sederhana untuk mendeteksi potensi keracunan atau pembusukan bahan pangan. “Test kit ini seperti kapas, bisa langsung digunakan untuk mengecek apakah produk sudah basi atau belum. Harapannya tahun depan sudah bisa dipakai,” ungkapnya.

Selain itu, BRIN juga melakukan ekstraksi komoditas pertanian agar lebih tahan lama. Contohnya, bawang yang diolah menjadi bubuk agar harga lebih stabil dan penyimpanan lebih efisien. “Ini penting untuk menjaga ketahanan pangan dan mendukung pelaku usaha seperti SPTG,” tambahnya.

img_title Kopi Liberika Menoreh Resmi Diakui Nasional, Varietas Lokananta dan Trajumas Siap Angkat Nama Kulonprogo

Terkait isu pengawasan dan dekontaminasi bahan radioaktif, Handoko menjelaskan bahwa BRIN terlibat langsung di lapangan bersama KLH dan pengawasan dari Bapak Beten. “Kami mendampingi, membuat standar penanganan dan penyimpanan, karena ahli-ahlinya ada di kami,” katanya.

Ia juga menyinggung pentingnya komunikasi satu pintu dalam penanganan isu strategis, termasuk dekontaminasi dan pelimbahan lokasi yang terpapar radiasi. “Semua komunikasi lewat Pak Menko Pangan. Supaya tidak simpang siur,” tegasnya.

BRIN juga aktif dalam ekspedisi laut untuk memperbarui data jumlah pulau di Indonesia. “Kita harus tahu berapa jumlah pulau kita sebenarnya. Banyak yang kecil dan belum diberi nama. Tahun ini kami lakukan 200 hari layar, tahun depan akan lebih banyak lagi,” tutup Handoko.

Halaman Selanjutnya
img_title