Menyulam Kedaulatan Maritim Melalui Riset dan Inovasi Biru
- Dok Humas UGM
SLEMAN, VIVA Jogja - Sektor maritim Indonesia kembali ditegaskan sebagai salah satu paradigma pembangunan nasional yang harus menjadi arus utama di tengah kompleksitas persoalan pangan, energi, kesehatan, lingkungan, hingga geopolitik global. Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., dalam forum National Policy Dialogue bertajuk Kedaulatan Kelautan Berbasis Kekayaan Hayati Kelautan: Orkestrasi Pengetahuan, Inovasi, dan Geopolitik dalam Ekonomi Biru Indonesia di Balai Senat Universitas Gadjah Mada, menekankan bahwa penguatan riset, teknologi, dan inovasi berbasis potensi kelautan adalah kunci untuk menempatkan Indonesia sebagai negara maritim yang berdaulat dan berdaya saing.
Arif menegaskan bahwa BRIN akan mendorong kapasitas riset oseanografi dan biodiversitas laut agar Indonesia memiliki posisi tawar yang kuat dalam negosiasi global terkait sumber daya kelautan. Ia juga menekankan pentingnya mengintegrasikan pengetahuan lokal masyarakat pesisir dengan sains modern. Menurutnya, pengalaman empiris masyarakat yang hidup dan berinteraksi langsung dengan laut setiap hari merupakan modal berharga yang harus bergandengan dengan pendekatan ilmiah. Dengan cara ini, pengetahuan tradisional tidak hanya dihargai, tetapi juga diperkuat oleh riset modern sehingga menghasilkan kebijakan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Rektor Universitas Gadjah Mada, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., menyoroti pentingnya hilirisasi riset dan inovasi kelautan sebagai langkah strategis memperkuat kedaulatan maritim Indonesia. Ia menekankan bahwa kekayaan biodiversitas laut bukan sekadar aset alam yang harus dijaga, melainkan juga sumber pengetahuan, inovasi, dan kesejahteraan masyarakat. Ova menambahkan bahwa ekosistem riset dan inovasi kelautan yang terintegrasi akan mendukung hilirisasi hasil penelitian sehingga dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat maupun industri nasional. Namun, ia juga mengingatkan bahwa perguruan tinggi sering menghadapi tantangan ketika hasil riset berhenti pada dokumen tanpa implementasi nyata. Karena itu, ia berharap BRIN dapat menjadi jembatan yang menghubungkan hasil riset akademisi dengan kebutuhan masyarakat dan industri. UGM, menurutnya, siap menjadi mitra strategis pemerintah dan berbagai institusi dalam membangun sektor maritim yang berkelanjutan, inklusif, dan berdaya saing global.