UGM dan BRIN Bangun Konsorsium Riset Tropis-Kutub untuk Hadapi Perubahan Iklim
- Dok Humas UGM
SLEMAN, VIVA Jogja - Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat kolaborasi riset dengan membentuk kelompok penelitian yang menghubungkan dinamika wilayah tropis dan kutub. Inisiatif ini lahir dari kesadaran akan dampak perubahan iklim yang semakin nyata, terutama di Asia Tenggara, di mana Indonesia sebagai negara tropis terbesar memiliki kerentanan tinggi terhadap bencana hidrometeorologi. Melalui Tropical-Polar Interconnection Research Group, UGM dan BRIN menggandeng mitra internasional dari Denmark, Norwegia, Argentina, serta Ukraina untuk meneliti keterkaitan perubahan di wilayah kutub dengan dampaknya terhadap kawasan tropis.
Dosen Teknik Geologi UGM, Ir. Nugroho Imam Setiawan, yang juga menjadi salah satu inisiator, menegaskan urgensi peran Indonesia dalam riset ini. “Beberapa masalah kebencanaan hidrometeorologi yang nyata dirasakan memiliki kaitan erat secara langsung dan tidak langsung dengan perubahan di daerah kutub,” ujarnya, Rabu (13/05/2026). Menurutnya, posisi geografis Indonesia di garis khatulistiwa menjadikan negara ini sangat rentan terhadap perubahan iklim global.
Imam menjelaskan bahwa BRIN sepakat untuk menggandeng peneliti UGM dalam kolaborasi dengan tim internasional, termasuk dari National Antarctic Scientific Center (NASC) Ukraina. “UGM memiliki beberapa peneliti yang telah memiliki pengalaman terkait riset kutub, dimana ini masih sangat langka. Kita sebagai negara tropis perlu memiliki sebuah wadah atau konsorsium yang berfokus pada hubungan wilayah tropis dan kutub,” ujarnya. NASC Ukraina bahkan menawarkan dukungan operasional riset dan pelayaran menuju Chili yang akan dimulai pada Desember 2026, membuka peluang besar bagi peneliti Indonesia untuk terlibat langsung dalam penelitian antartika.
Kolaborasi ini sudah mulai diwujudkan melalui kunjungan delegasi UGM, BRIN, dan NASC Ukraina ke Kawasan Konservasi Ilmiah (KKI) Geodiversitas Karangsambung yang dikelola BRIN. Kunjungan tersebut dilakukan untuk observasi fasilitas penyimpanan sampel batuan, sedimen, serta laboratorium yang tersedia, termasuk Geosite Watu Kelir. Imam menilai kunjungan ini sebagai momentum penting untuk transfer pengetahuan, pengenalan karakteristik geologi Indonesia, sekaligus membuka peluang riset lebih lanjut antar institusi. “Kunjungan ini menjadi momentum transfer pengetahuan, pengenalan karakteristik wilayah Indonesia, sekaligus membuka peluang kolaborasi riset yang lebih lanjut antar institusi,” ujarnya.