Ancaman Air Lindi Depo Sampah Yogya Mengintai

Kota Yogya kebut pembersihan sampah
Sumber :
  • Humas Pemkot Yogya

BANTUL, VIVA Jogja -  Penumpukan sampah di sejumlah depo Kota Yogyakarta kini mencapai 1.060 ton. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius, bukan hanya karena bau menyengat dan munculnya lalat, tetapi juga ancaman pencemaran air tanah akibat air lindi yang merembes dari tumpukan sampah.

img_title UMY Targetkan 7.500 Mahasiswa Baru, Dosen Diminta Aktif Promosikan Kampus

Pakar Teknik Keairan dan Lingkungan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr Surya Budi Lesmana, menegaskan bahwa depo sampah sejatinya hanya berfungsi sebagai tempat transit sementara. “Ketika sampah dibiarkan menumpuk dalam jumlah besar dan waktu lama, dampaknya tidak hanya kotor dan bau, tetapi juga berisiko menimbulkan penyakit,” ujarnya, Rabu (17/12/2025).

Surya menekankan, bahaya terbesar justru datang dari air lindi yang meresap ke dalam tanah. Jika masuk ke lapisan air tanah dangkal yang digunakan warga melalui sumur, pencemaran bisa terjadi dan membahayakan kesehatan masyarakat.

img_title Muhammadiyah Siapkan Peta Jalan Karier Dosen Menuju Guru Besar

Situasi ini tidak lepas dari persoalan sistemik pengelolaan sampah di Yogyakarta. Penutupan TPST Piyungan membuat aliran sampah dari kota dan sekitarnya tertahan di depo, sementara produksi sampah harian tetap tinggi.

Menurut Surya, solusi tidak bisa parsial. Pengelolaan harus menyeluruh dari hulu hingga hilir, dengan fokus utama pada sampah rumah tangga. “Sampah anorganik seharusnya dipilah dan dikelola dengan prinsip 3R. Tantangannya adalah membangun kesadaran masyarakat, dan itu butuh proses panjang,” jelasnya.

img_title Muhammadiyah Dorong Evaluasi Ormas Berbasis Hukum dan Data

Ia menambahkan, perubahan cara pandang terhadap sampah harus dimulai sejak dini melalui pendidikan dan sosialisasi berkelanjutan. Sampah tidak boleh lagi dianggap sekadar limbah, melainkan persoalan lingkungan yang menjadi tanggung jawab bersama.

Surya juga mengingatkan pemerintah daerah agar lebih serius menekan timbulan sampah dari sumbernya. “Kalau tumpukan 1.060 ton ini terus bertambah, sulit diatasi. Strategi paling penting adalah mengurangi sampah yang masuk, termasuk mendorong pengolahan organik di rumah tangga,” tegasnya.